Ababil

Andriansyah
http://www.sinarharapan.co.id/

Kota kami adalah kota yang tak pernah sepi dari hingar-bingar dentuman bom, desing peluru. Lemparan granat yang terkadang berbarengan dengan lemparan batu pemuda-pemuda di kota ini. Ya, itulah kota kami. Kota yang tak pernah sepi dari kepulan asap dan puing-puing bangunan yang runtuh. Kota yang makin tak peduli lagi berapa banyak nyawa yang meregang di antara reruntuhan gedung yang hancur, pasar yang mengepul terbakar, anak-anak kecil korban salah sasaran. Semua itu telah menjadi pemandangan yang biasa, malah terkesan tak biasa jika satu hari saja sebuah bom tak jatuh di sini. Orang-orang sudah makin terbiasa dengan keadaan ini. Continue reading “Ababil”

Siti Zaenab

Andriansyah
http://www.lampungpost.com/

SEHABIS salat subuh tadi, ia langsung membereskan rumah, mencuci piring bekas makan malam, kemudian mencuci baju, lalu menyapu halaman. Ya, rutinitas yang biasa dilakukannya. Entahlah, semuanya sudah teratur seperti itu. Ingin rasanya ia mengubah rutinitas itu, tapi ia tak bisa. Setiap kali sehabis salat subuh ia ingin tidur kembali, setiap kali itu pula matanya tak mau mengatup lagi. Matanya terus terjaga, tak bisa melanjutkan tidur lagi setelah dibasuh dengan air wudu. Continue reading “Siti Zaenab”