Realitas dan Karya Sastra

Anindita S. Thayf *
Jawa Pos, 7 Feb 2021

Ada anggapan bahwa karya sastra harus menggambarkan realitas. Anggapan itu ditambahi pula dengan penekanan bahwa realitas harus digambarkan secara jujur apa adanya. Ini membuat karya sastra, yang termasuk dalam ranah estetika (filsafat keindahan), mendapat tambahan beban tugas etika (filsafat moral), yaitu kejujuran. Alhasil, lahirlah karya-karya sastra yang dimuliakan berkat kejujuran semacam itu. Pemikiran ini dianut oleh para pemuja realisme klasik atau realisme borjuis. Continue reading “Realitas dan Karya Sastra”

RESIDENSI BIAR PANDAI

Anindita S. Thayf *
Radar Mojokerto, 19/07/2020

Seseorang pernah berkata, “Bahkan penulis pun butuh piknik.” Tak disangka, ide serupa juga pernah diungkapkan Nietzsche puluhan tahun lampau. Saya baru mengetahuinya saat membaca karya sang filsuf berjudul Mengapa Aku Begitu Pandai. Nietzsche ternyata suka rekreasi dan menganggapnya sebagai sesuatu yang mesti dilakukan. Saking pentingnya hal itu, Nietzsche memasukkan rekreasi sebagai satu dari tiga unsur yang mempengaruhi kepandaiannya. Continue reading “RESIDENSI BIAR PANDAI”

SASTRA SAYEMBARA

Anindita S. Thayf
Harian Fajar, 19/01/2020

Sulit untuk mendamparkan ingatan pada era 80-an tanpa terkenang pada nada-nada yang sering dimainkan hari-hari kala itu. Salah satu nada adalah milik lagu-lagu yang kerap merajai hampir semua stasiun radio: lagu-lagu festival. Adalah Festival Lagu Populer Indonesia (FLPI) dan Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors yang menjadi sumber pemasok banyak lagu populer ke tengah industri musik Indonesia saat itu. Baik FLPI maupun LCLR adalah ajang kontes seni yang lahir pada era 70-an. Continue reading “SASTRA SAYEMBARA”