Komik Superhero Indonesia: Gundala dan Telur Columbus

Anton Kurnia
sinarharapan.co.id

Seperti pernah diungkapkan oleh Marcell Boneff dalam sebuah tulisan berjudul Sebuah Cermin Ideologi: Cerita Bergambar Indonesia (1983), di Indonesia komik masih sering dianggap sebagai hasil kebudayaan kelas kambing yang tak bernilai sama sekali bagi para peneliti. Ia hanya dianggap sebagai “sampah khayalan untuk menyibukkan anak-anak, para buta huruf dan tukang mimpi.” Para pendidik dan kaum puritan serta-merta merendahkannya dari sudut pandang moral secara a priori. Lebih parah lagi, kini komik Indonesia kian terpinggirkan oleh serbuan komik impor, terutama komik-komik Jepang terjemahan, seperti serial Crayon Sinchan, Dragon Ball dan Kobo Chan. Continue reading “Komik Superhero Indonesia: Gundala dan Telur Columbus”

Perempuan, Seks, Sastra

Anton Kurnia
sinarharapan.co.id

Belakangan ini terjadi polemik dalam berbagai diskusi serta sejumlah media massa mengenai fenomena munculnya para perempuan penulis muda yang hadir dengan karya-karya bermuatan seks. Banyak pandangan yang pada intinya menyiratkan “kekhawatiran” atas merebaknya fenomena tersebut. Mengamati polemik itu, saya melihat bahwa yang “diresahkan” oleh banyak kalangan adalah karena mereka yang giat “mengeksplorasi tubuh manusia” ini nota bene para perempuan, tepatnya “perempuan muda”. Begitulah, banyak orang ribut soal seks dalam sastra kita belakangan ini hanya karena yang menuliskannya adalah perempuan! Continue reading “Perempuan, Seks, Sastra”

Sastra dan Realitas Imajiner

Anton Kurnia
sinarharapan.co.id

“Ketika Gregor Samsa terbangun pada suatu pagi di atas ranjangnya dari sebuah mimpi yang menggelisahkan, ia menemukan dirinya telah berubah menjadi seekor kumbang raksasa.” Demikian Franz Kafka (1883-1924), novelis muram yang tumbuh di Praha, membuka “Metamorfosis” (1915). Gregor Samsa terputus hubungan dengan masa lalunya sebagai manusia secara tiba-tiba. Sesuatu yang “irasional” terjadi pada hidupnya yang “nyata”. Continue reading “Sastra dan Realitas Imajiner”

Delima

Yasunari Kawabata
Penerjemah: Anton Kurnia
suaramerdeka.com

DALAM embusan angin malam daun-daun pohon delima jatuh berguguran. Helai-helai dedaunan terserak melingkar di pelataran. Kimiko terkejut saat melihat pohon itu meranggas di pagi hari dan terheran-heran menyaksikan lingkaran dedaunan yang terserak begitu sempurna di bawahnya. Dia berharap angin akan mengacaukannya. Sebutir buah delima yang ranum tertinggal di pohon itu.

“Kemarilah, lihat itu,” seru gadis itu kepada ibunya. Continue reading “Delima”

Bahasa ยป