Kesenian yang Kurang Perhatian

Anton Kurniawan*
Lampung Post, 29 Juli 2006

Cahaya remang-remang dari lighting yang cukup sederhana, kursi, dan layar berwarna hitam tampak di ruangan berukuran sedang yang dipenuhi sekitar 50-an orang. Asap yang berasal dari rokok para penonton perlahan merayap memenuhi ruangan, menjelma kabut.

Di antara para penonton tampak beberapa penyair yang sudah amat dikenal dalam dunia kepenyairan di Lampung, bahkan di tingkat nasional, di antaranya Iswadi Pratama, Budi Hutasuhut, Ari Pahala Hutabarat, Jimmy Maruli Alfian, Inggit Putria Marga, dan Eddy Samudera. Continue reading “Kesenian yang Kurang Perhatian”

Sejarah Silam dan Romantisme Pesagi

Anton Kurniawan *
http://www.lampungpost.com/

Sebagai muasal, masa silam adalah ibu kandung yang telah melahirkan apa yang kita jalani saat ini. Tak perlu diperdebatkan. Bahkan sang orator, Putra Sang Fajar, Soekarno berkata, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.”

Namun, agaknya derasnya arus zaman serta kuatnya hempasan gelombang modernisasi saat ini memaksa kita lupa sejarah masa silam. Dan bila kita lalai, peristiwa masa lalu yang penuh nilai dan mengajarkan kearifan itu akan ber-balin rupa serupa debu yang lantak di bawah lesat hujan. Tak ada yang mengenangnya. Continue reading “Sejarah Silam dan Romantisme Pesagi”

Penyair Lampung dan Kritikus Sastra

Anton Kurniawan*
http://terpelanting.wordpress.com/

?Lampung kini dikenal sebagai daerah produsen penyair, hal ini disebabkan banyaknya penyair yang lahir di daerah ini beberapa tahun belakangan. Saya mencatat lebih dari 20 penyair. Dalam puisi Lampung kontemporer yang umumnya berbentuk prosa, akulirik tidak lagi mengacu pada penulis cerita, tapi mengacu kepada cerita itu sendiri. Dan yang lebih berat lagi bagaimana bertahan dalam ketegangan antara prosa dan puisi yang memakai bayang-bayang cerita?. Continue reading “Penyair Lampung dan Kritikus Sastra”