Gundala dan Sastra Panggung yang Canggung

Ardus M Sawega *
Kompas, 15 Des 2013

Ketika kelompok Teater Gapit dari Solo, Jawa Tengah, muncul pada tahun 1980, tebersit harapan bahwa itu bakal menjadi momentum ”kebangkitan sastra Jawa”. Setidaknya dalam bentuk ”sastra panggung”. Teater Gapit yang dibentuk dari kalangan mahasiswa Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI, sekarang ISI) Surakarta mendadak menjadi tumpuan banyak kalangan setelah beberapa dekade sastra Jawa seakan mengalami kemandekan. Continue reading “Gundala dan Sastra Panggung yang Canggung”

Merawitkan Naskah, Membaca Sejarah

Bre Redana, Ardus M Sawega
Kompas, 22 Maret 2009

”BU Nancy, tamunipun sampun rawuh…” begitu kata petugas resepsionis hotel di Solo melalui telepon kepada tamunya, Nancy K Florida, yang menginap di situ. Nancy, Indonesianis dari Universitas Michigan, Amerika Serikat, peneliti naskah-naskah kuna Jawa, fasih dan suka berbahasa Jawa halus dalam pergaulan sehari-hari di Solo. Kehalusan bahasanya kontras tajam dengan cara pandangnya tentang kebudayaan Jawa, berikut gempurannya terhadap sarjana-sarjana, baik Belanda maupun Indonesia, dengan filologi yang dikecamnya keras. Continue reading “Merawitkan Naskah, Membaca Sejarah”

Sisi Lain: Menembus Batas

Ardus M Sawega
Kompas, 12 Des 2010

APA yang hendak dicapai dari sebuah pameran seni rupa oleh ”nonperupa” yang selama ini lebih dikenal publik sebagai seniman atau intelektual? Mengundang kagum, sensasi, sekadar ramai-ramai atau lucu-lucuan? Lepas dari berbagai prasangka itu, kurator pameran seni rupa ”Sisi Lain” yang digelar di Galeri ISI Surakarta, 27 November-11 Desember 2010, punya argumentasi konkret mengapa 25 pesohor itu diboyong dalam satu pameran bersama. Continue reading “Sisi Lain: Menembus Batas”

Ratu Kidul, Mitos yang Tak Akan Hilang

Ardus M Sawega
Kompas, 21 Des 2009

”Tadi terjadi pertempuran alus. Banyak kelompok orang yang ingin gagalkan acara. Ratu menangis lihat perbuatan mereka. Dia juga terharu karena melihat besarnya animo orang untuk ikut seminar.”

Pesan singkat lewat ponsel itu dikirimkan oleh MT Arifin, satu jam seusai seminar ”Membongkar Mitos Ratu Kidul” di Balai Soedjatmoko, Solo, Kamis (17/12). Di seminar itu, dia menjadi salah seorang pembicaranya. Dari pesan singkat MT Arifin itu, seolah benar-benar telah terjadi ”pertempuran” di dunia gaib di tengah seminar. Continue reading “Ratu Kidul, Mitos yang Tak Akan Hilang”

Pitoyo Amrih: Novel Wayang Membangun Bangsa

Ardus M Sawega
Kompas, 11 Maret 2011

BERMULA dari obsesi untuk memberikan alternatif agar anaknya tak hanya terbuai tokoh hero asing di televisi, seperti Naruto, One Piece, dan Avatar. ”Kita juga punya pahlawan atau patriot yang selalu menang melawan musuh dan punya jurus-jurus sakti tak kalah dibandingkan Naruto dan yang lain itu,” kata Pitoyo Amrih. Maka, lahirlah novel-novel wayang dari tangannya. Continue reading “Pitoyo Amrih: Novel Wayang Membangun Bangsa”