Tentang Penyair dan Penyakit Puisi

Fahrudin Nasrulloh *

Apa hebatnya puisi sehingga tak lelah-lelah terus dituliskan? Penyair-penyair muda terus bermunculan. Yang lawas-lawas kian mengukuhkan kepenyairannya. Sedang yang lain adalah mereka yang telah kehilangan gairahnya, karena tuntutan hidup yang riil lebih mencambuk ketimbang mengurusi puisi. Memang, gairah pada puisi, pada belantara teks, pada kembara pengalaman puitik, pengalaman di kedalaman bahasa, merupakan kerahasiaan tersendiri atas segala proses itu. Continue reading “Tentang Penyair dan Penyakit Puisi”

Beno pun Kembali ke Jalan yang Benar

Pudyo Saptono
suarakarya-online.com

Jagad perpuisian di Kota Semarang kembali menggeliat seiring kembalinya si anak “hilang”-penyair Beno Siang Pamungkas-pada jalan yang benar, yang pernah mewangikan namanya di dunia sastra modern.

Setelah sengaja “menghilang” dan “menggelandang” di jalanan selama sepuluh tahun sebagai seorang juru warta pada sebuah stasiun televisi swasta nasional, penyair Semarang kelahiran Desa Kuncen, Kecamatan Padagangan, Kabupaten Bojonegoro, Jatim, 30 Maret 1968 ini akhirnya merasa sangat berdosa dan takut tercerabut dari akar kesenimanannya. Continue reading “Beno pun Kembali ke Jalan yang Benar”