MENANGKAP NILAI ADILUHUNG EVENT RITUAL YAAQAWIYYU

Sri Wintala Achmad
http://sanggargununggampingindonesia.blogspot.com/

Di dalam mayasarakat Jawa, Sapar telah dianggap bulan paling selaras untuk melakukan upacara tradisi bersih desa Saparan. Upacara bersih desa tersebut tidak hanya diselenggarakan di beberapa tlatah Ngayogyakarta, seperti di Gamping (Bekakak), Wonolela (Sebaran Apem), atau di Wonokromo (Rebo Pungkasan), melainkan pula di tlatah Jawa Tengah semisal di Pengging, Jatinom-Klaten dll. Continue reading “MENANGKAP NILAI ADILUHUNG EVENT RITUAL YAAQAWIYYU”

Puisi, Sejarah, Santet *

Sebentuk ‘Surat Kreatif’ kepada Fatah Yasin Noor, Penulis Kumpulan Puisi Rajegwesi

Mashuri **

Sejarah adalah mimpi buruk (James Joyce)

Bung Fatah Yasin Noor yang terhormat.
Mungkin kita belum pernah bersua, namun dalam kesempatan ini aku berikhtiar bersua denganmu lewat puisi-puisimu. Siapa tahu aku dan dirimu bertemu atau berpapasan di teks-teks puisimu, dan pertemuan itu bisa aku untai menjadi buah pikiranku. Jika aku tak bisa menemuimu di sana, aku akan merangkum kealpaan itu dalam praduga yang berlatar pada sosio-kultur yang melahirkan teks-teks puisimu, juga sosiokultur yang mematri nilai-nilai dan kearifan ke jiwamu. Continue reading “Puisi, Sejarah, Santet *”

Kesadaran Ruang dari Tubuh dan Bau Tanah

Menuju Apresiasi Ibu Bumi Pertiwi
I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

SEUSAI nuwasen karya dan ngunggahang sunari dalam gelar ritus besar terkait dengan unsur-unsur utama kemestaan di Bali, biasanya akan dilanjutkan dengan tahapan nyukat, lalu bhumi suddha. Kedua tahapan ini begitu penting, karena pada tahap inilah ruang untuk digelarnya ritus itu dipilih, ditentukan, setelah didahului dengan pemilihan dan penentuan waktu lewat tahapan pertama, nuwasen karya. Itu berarti, suatu gelar ritus keagamaan berkait dengan kesemestaan di Bali senantiasa mengikuti ”standar produser” berupa pemilihan dan penentuan waktu, lalu dilanjutkan dengan pemilihan dan penentuan ruang. Continue reading “Kesadaran Ruang dari Tubuh dan Bau Tanah”

ZAMAN EDAN: ZAMAN PENUH KUTUKAN

Puji Santosa
http://www.facebook.com/

Kalatidha adalah salah satu judul karya sastra yang ditulis oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita seputar tahun 1861. Karya ini merupakan kritik sosial profetis yang menggambarkan akan datangnya masa sulit, suram, rusak, dan tidak menentu yang disebut sebagai zaman edan. Pada zaman itu negara demikian kacau-balau, undang-undangnya tidak dihargai, derajat negara menjadi suram, dan rakyat semakin rakus dan loba. Hal ini mengingat pada tahun 1858 raja Surakarta, Sinuhun Paku Buwana VII meninggal dan digantikan oleh adik tirinya Kusen dengan gelar Paku Buwana VIII. Continue reading “ZAMAN EDAN: ZAMAN PENUH KUTUKAN”