Sastra Seksual dalam Masyarakat Epigon

Budi P Hatees*
http://www.infoanda.com/Republika

Ihwal tubuh menjadi pembicaraan serius di kalangan intelektual sastra akhir-akhir ini. Di satu sisi ada pandangan yang mengatakan kehadiran seks dalam karya sastra sebagai suatu keharusan, karena seks merupakan representasi kesadaran manusia tentang diri atau tubuhnya; seks adalah penegasan identitas diri dan eksistensi. Continue reading “Sastra Seksual dalam Masyarakat Epigon”

Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi

Budi P. Hatees*
http://www.lampungpost.com/

KETIKA membaca buku Kumpulan Puisi Ruang Lengang yang ditulis Epri Tsaqib, ingatan kita segera tertumbuk pada sastra islami yang diusung para penggiat Forum Lingkar Pena (FLP) dalam karya-karya mereka. Epri Tsaqib bergiat dalam wadah ini, tetapi ia memilih jalan puisi sebagai alat ekspresi seni, berbeda dengan pilihan sebagian besar penggiat FLP yang condong mengutamakan prosa.

Apa pun pilihan ekspresi seni para penggiat FLP, semuanya memiliki kelemahan juga kekuatan. Tentang kelemahan dan kekuatan setiap pilihan ekspresi seni itu akan saya singgung dalam tulisan ini, sehingga dapat menjadi pembanding bagi para penggiat FLP dalam menekuni dunia kepenulisan sastra di negeri ini. Continue reading “Puisi dari dan untuk Ruang Sunyi”

Ketika Sandal Dimerdekakan

Membaca Sajak-Sajak Okky Sanjaya

Budi P. Hatees
http://www.lampungpost.com/

Sandal bisa menjadi apa saja yang pembaca inginkan. Okky Sanjaya memanfaatkan kekuasaan akan kemerdekaan personal untuk membebaskan sandal dari kungkungan makna.

SANDAL di tangan kapitalis bermetamorfosis; metamorfosis yang mirip idiom sandal dalam sejumlah sajak dalam manuskrip Belajar Memasak Sajak. Manuskrip ini berisi sajak-sajak Okky Sanjaya yang muncul di sejumlah media cetak di Lampung maupun luar provinsi; lahir dari proses panjang kepenyairannya sejak masih di SMA. Continue reading “Ketika Sandal Dimerdekakan”