Damiri Mahmud Tak Pernah Kehabisan Kata

Nevatuhella
Harian Analisadaily 2 Agu 2014

Di usia 69 tahun, Damiri Mahmud masih cukup aktif menulis. Minggu, 4 Mei 2014 yang lalu, catatan budayanya muncul di Harian Analisa Medan. Sore harinya pada hari yang sama, dia memberi ceramah sastra di stasiun RRI Medan bersama sastrawan Medan, Sulaiman Sambas (sastrawan asal kota Tanjungbalai, Asahan, teman kecil Martin Alaida), Mihar Harahap (mantan dekan FKIP-UISU Medan), dan penyair Wirja Taufan. Continue reading “Damiri Mahmud Tak Pernah Kehabisan Kata”

Bokor Hutasuhut, “Penakluk Ujung Dunia”

Damiri Mahmud
harian.analisadaily.com

BOKOR Hutasuhut lahir di Ba­lige, 2 juni 1934. Pernah Re­daktur kebudayaan majalah Wak­tu, Medan. Sekretaris Yayasan Sastra (penerbit majalah Sastra). Sekretaris Jenderal KKPI (Konpe­rensi Karyawan Pengarang Indonesia). Dia penanda tangan Ma­nifes Kebudayaan. Novel-novel­nya adalah Pantai Barat, Tanah Kesayangan dan Penakluk Ujung Dunia. Continue reading “Bokor Hutasuhut, “Penakluk Ujung Dunia””

Menyingkap Tumpukan Koran Medan 1919

Damiri Mahmud
Jurnal Nasional, 12 Mei 2013

BABAKAN Sastra Indonesia Modern lazim disebut baru dimulai awal 1920-an ketika roman “Siti Nurbaya” karya Marah Rusli terbit tahun 1922 dan “Percikan Permenungan” karya Rustam Efendi terbit tahun 1926. Salah satu syair Rustam Efendi yang sangat terkenal adalah “Bukan Beta Bijak Berperi” sebagai kredo yang menyatakan selamat tinggal kepada syair-syair lama dan dimulainya babakan sy air-syair baru yang mengandalkan kepada imajinasi individual. Demikian bunyinya: Continue reading “Menyingkap Tumpukan Koran Medan 1919”

Kepala

Damiri Mahmud
lampungpost.com

SANG Empu dikelilingi beberapa muridnya. Langit sedikit gelap. Tak ada angin. Burung-burung masih hinggap di pepohonan, bersahut-sahutan, mungkin memberitakan ziarahnya hari itu dan perolehan rezeki dari padang ke padang.

“Maukah kamu mendengarkan sebuah kisah, Muridku?”

“Tentu Guru,” murid menjawab takzim. “Kami akan menelaahnya baik-baik.” Continue reading “Kepala”