DAMPAK PELAJARAN MENGHAFAL TERHADAP KEGAGAPAN BUDAYA

Dian Sukarno *

Suatu hari salah satu murid sanggar tari Lung Ayu bernama Ita, lulusan sebuah SMA favorit di Jombang, mengaku bahwa dirinya sengaja tidak memilih program study IPS sewaktu duduk di bangku SMA, karena ketakutan menghadapi mata pelajaran hafalan. Apalagi jika bertemu dengan mata pelajaran IPS yang di dalamnya meliputi geografi dan sejarah, bisa-bisa remaja seperti Ita yang maunya serba praktis, tidak menginginkan hal-hal yang ribet, termasuk dalam pelajaran, harus suntuk habis-habisan menghadapi menu harian di kelas yang penuh dengan deret hafalan. Continue reading “DAMPAK PELAJARAN MENGHAFAL TERHADAP KEGAGAPAN BUDAYA”

LETUPAN KERINDUAN IDENTITAS

(Tanggapan Tulisan Terbuka Untuk Bupati Suyanto)

Dian Sukarno *

Menyoal apa yang dipapar oleh kawan Fahrudin Nasrulloh penggiat sastra dari komunitas Lembah Pring berjudul Memperbincangkan Seni-Budaya Jombang pada Serambi Budaya Radar Mojokerto, Minggu,28 Maret 2009, sebuah pemikiran yang menggigit dan lontaran komentar nan nyengit. Tetapi itulah fakta dan kenyataan yang tidak layak untuk diingkari apalagi ditutupi. Ibarat borok sudah ngemburuk, andai luka telah bernanah-nanah. Continue reading “LETUPAN KERINDUAN IDENTITAS”

SEJARAH SEPANJANG JALAN

Dian Sukarno *

Pelajaran Sejarah pada hakekatnya adalah memperkenalkan manusia yang berjuang kepada manusia yang sedang berjuang (R. Moh. Ali, 2005:352). Karena itu diperlukan strategi yang tepat agar generasi sekarang tidak gagab terhadap sejarah bangsanya. Peran guru sebagai pendidik sangat menentukan keberhasilan pencapaian hasil pelajaran sejarah. Dalam hal ini guru-guru sejarah harus memiliki kemampuan penceritaan sejarah yang diharapkan nilai-nilai kejuangan dapat ditransformasikan kepada peserta didik yang notabene sebagai generasi penerus. Continue reading “SEJARAH SEPANJANG JALAN”

Filosofi Semar dan Makrokosmos Gus Dur

Dian Sukarno *
radarmojokerto.co.id

Semar dalam dunia pewayangan adalah manusia setengah dewa penjelmaan Sang Hyang Ismaya. Semar sendiri berasal dari kata tan samar, artinya tidak tertutupi oleh tabir. Terang trawaca cetha tur wela-wela sangat jelas tanpa terselubungi sesuatu. Semar adalah sosok yang nyata dan tidak nyata. Ada dalam tiada, tiada tetapi ada. Keberadaannya memang dimaksudkan untuk menjaga ketentraman di muka bumi (memayu hayuning bawana) dan ketentraman antar sesama umat manusia (memayu hayuning sasama). Continue reading “Filosofi Semar dan Makrokosmos Gus Dur”