FAHRUDIN MENOLAK TUNDUK PADA MAUT

Dwi Cipta

Seseorang tak bisa menolak maut saat ia sudah datang dan mengajaknya meninggalkan dunia ini. Namun seseorang bisa melawan paksaan maut saat ia baru mengirim pesan bahwa dirinya akan datang. Beberapa orang di antaranya berhasil. Beberapa yang lainnya gagal. Berhasil atau pun gagal, sepanjang manusia telah melakukan perlawanan sepenuh hati terhadap pesan yang dikirimkan oleh Sang Maut, Continue reading “FAHRUDIN MENOLAK TUNDUK PADA MAUT”

Renjana

Dwicipta
Kompas, 11 Maret 2012

AKU berangkat ke kotamu pagi ini dengan kereta paling awal, diantar hawa dingin dan kabut bulan Maret yang menusuk tulang. Mungkin kau tak mengira bertahun-tahun setelah kita tak lagi menghabiskan waktu bersama aku selalu melakukan perbuatan tolol ini: mencarimu di kota yang tak lagi kau tinggali. Continue reading “Renjana”

Tanah Merah

Dwicipta
Kompas, 13 Jan 2008

Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya pergi dari Tanah Merah, seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri adalah rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan. Semula ia adalah seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang telah menguasai bumi Hindia Belanda selama ratusan tahun. Continue reading “Tanah Merah”

Tambo Raden Sukmakarto

Dwicipta
Kompas, 2006/05/07

Di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Idenburg, di Batavia beredar kisah konyol tentang Raden Sukmakarto, seorang bangsawan Jawa anak Bupati Blora, mahasiswa STOVIA yang tak menyelesaikan studinya karena asyik berpesiar ke Eropa. Bakatnya dalam bidang kesenian telah menggemparkan seluruh Hindia Belanda. Namun peristiwa di gedung Nederlandsch-Indie Kunstkring-lah yang membuat ia menjadi lelaki paling terkenal di Batavia di masa itu. Continue reading “Tambo Raden Sukmakarto”

Pengukir Nisan

Dwicipta
Kompas, 2006/02/12/

Malam sebelum ia mengukir nisan, Tan Kim Hok bermimpi bertemu dengan seorang lelaki jangkung. Dilihat dari warna kulitnya, ia tentu bukan Belanda totok. Tapi bola matanya biru tajam dan pakaiannya seperti orang Eropa umumnya, kecuali kakinya yang tak bersepatu. Lelaki itu mengajaknya ke salah satu kanal. Berhenti di tepi kanal, ia tudingkan jari telunjuknya ke arah tumpukan sampah dan lumpur menggunung, lalat-lalat yang beterbangan di sekitar sampah dan aroma busuk yang memualkan perut. Continue reading “Pengukir Nisan”