Imajinasi, Observasi, dan Intuisi pada Cerpen “Langit Makin Mendung”

H. Bahrum Rangkuti

Tidak mudah melukiskan secara objektif dan ilmiah judul di atas ini, lebih-lebih karena cerpen Langit Makin Mendung karangan Kipandjikusmin, sangat dihebohkan oleh golongan besar umat Islam. Hamka sendiri sebagai saksi ahli dalam sidang pengadilan atas dimuatkannya cerpen tersebut dalam majalah Sastra, merasa dirinya sangat tersinggung dan menyatakan kepada hakim ketua, ia akan murtad jika ia sebagai Penanggung Jawab majalah Kiblat memuatkannya dalam majalah yang dipimpinnya itu. Continue reading “Imajinasi, Observasi, dan Intuisi pada Cerpen “Langit Makin Mendung””

Proses Lahirnya Manifes Kebudayaan

D.S. Moeljanto

Naskah Manifes Kebudayaan selesai dikerjakan oleh Wiratmo Soekito pada 17 Agustus 1963 pukul 04.00 WIB. Setelah dipelajari, akhirnya dapat diterima oleh Goenawan Mohamad dan Bokor Hutasuhut, sebagai bahan yang akan diajukan ke diskusi pada 23 Agustus 1963 di Jalan Raden Saleh 19 Jakarta. Kemudian naskah tersebut diperbanyak dan disampai­kan kepada sejumlah seniman untuk dipelajari, jika dianggap perlu diberi catatan-catatan sebagai landasan ideal. Continue reading “Proses Lahirnya Manifes Kebudayaan”

Alain Badiou: Kembali ke Filsafat, Kebenaran dan Subjek

Bagus Takwin *

Alain Badiou memberi darah segar pada filsafat, menghidupkan dan menggairahkannya. Dengan menggunakan matematika, ia membuka jalan bagi kembalinya filsafat, juga kebenaran dan subjek. Ia menyuburkan lagi hasrat filsafat dengan menafsir ulang pemikiran para filsuf Yunani kuno. Dengan analisis implikasi logis dari pemikiran Herakleitos, Parmenides, Plato dan Aristoteles, ia mendefinisikan ulang ‘Ada’ (being) dan ontologi. Continue reading “Alain Badiou: Kembali ke Filsafat, Kebenaran dan Subjek”