Bahasa Sajak di Antara Subjektivitas

Abdul Wachid B.S. *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Ada perbedaan tertentu antara bahasa di dalam sajak dan bahasa di luar sajak. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bahasa pada umumnya adalah alat untuk mengomunikasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal yang berlangsung di dalam jiwa manusia. Sementara itu, yang membedakan bahasa di dalam sajak dengan bahasa di luar sajak adalah adanya kenyataan lain yang tersembunyi di balik bahasa sajak yang berupa tujuan awal penyair, ungkapan hati, perasaan, daya khayal, dan wilayah kenyataan baru yang sedang dijelajahi penyair. Continue reading “Bahasa Sajak di Antara Subjektivitas”

Puisi Menjadi Media Ekspresi Pengalaman Religius

Abdul Wachid B.S. *
badanbahasa.kemdikbud.go.id

Di dalam tasawuf, yang dimaksudkan dengan cinta (mahabbah) adalah cinta mutlak kepada Allah. Menurut Ibnu ‘Arabi (via Affifi, 1989: 238), basis timbulnya cinta itu disebabkan oleh keindahan. Di samping itu, “Islam sendiri benar-benar menganggap aspek ketuhanan sebagai keindahan dan gambaran ini dijadikan tumpuan istimewa dalam tasawuf, yang secara alami berasal dan mengandung inti (haqaa’iq) ajaran Islam,” demikian ungkap Seyyed Hossein Nasr (via Hadi W.M., 2001: 10). Continue reading “Puisi Menjadi Media Ekspresi Pengalaman Religius”

POKOK PERSOALAN APRESIASI SASTRA (2)

Djoko Saryono *

Kita tahu, sastra menjadi pokok persoalan (subject matter) berbagai kegiatan yang bersangkutan dengan sastra. Bahkan bersangkutan juga dengan kegiatan di luar sastra. Disiplin ilmu sejarah, sosiologi, antropologi, dan keagamaan sering menjadikan sastra sebagai pokok persoalan. Sebagai contoh, ketika hendak melihat perubahan-perubahan yang terdapat dalam pribadi-pribadi masyarakat Jawa, Niels Mulder menganalisis beberapa novel Indonesia yang kuat warna kejawaannya. Hal ini Continue reading “POKOK PERSOALAN APRESIASI SASTRA (2)”

MAKNA APRESIASI SASTRA (1)

Djoko Saryono *

Menurut hemat saya, secara operasional apresiasi sastra dapat dimaknai sebagai proses (kegiatan) pengindahan, penikmatan, penjiwaan, dan penghayatan karya sastra secara individual dan momentan, subjektif dan eksistensial, rohaniah dan budiah, khusuk dan kafah, dan intensif dan total supaya memperoleh sesuatu daripadanya sehingga tumbuh, berkembang, dan terpiara kepedulian, kepekaan, ketajaman, kecintaan, dan keterlibatan terhadap karya sastra. Continue reading “MAKNA APRESIASI SASTRA (1)”

JASSIN ATAS JASSIN

Fauzi Sukri *
100tahunhbjassin.wordpress.com

/1/
“Nah, Saudara pembaca. Jassin sudah digantung,” kata Jassin dalam akhir esai surat yang sangat pajang kepada M. Balfas, bertanggal 31 Desember 1952. Ini adalah pernyataan otokritik paling keras yang pernah ditulis oleh kritikus sastra Indonesia. Tak pernah ada, bahkan sampai sekarang. Continue reading “JASSIN ATAS JASSIN”