MELONGOK DIRI, MENEMU ILAHI

Djoko Saryono *

Teks adalah tenunan kisah dan berita-pikiran yang galibnya dijaga akal dan atau hati. Pada dasarnya ia otonom dan mandiri. Kendati tak terpisahkan, namun ia tak selalu dan melulu bergantung pada penulisnya, apalagi orang lain – pembaca awam ataupun orang ahli. Beda dengan tuturan atau omongan yang hidup dalam dunia kegaduhan banyak orang, teks lebih memilih hidup dalam dunia kebeningan, ketenangan, keheningan, kekhusyukan, bahkan kesenyapan yang bermakna. Justru Continue reading “MELONGOK DIRI, MENEMU ILAHI”

Jayati Seni ing Tlatah Jenggala

Ribut Wijoto
beritajatim.com, 9 April 2021

“Dalam prasasti Ngantang (tahun 1135), ada dituliskan istilah ‘Panjalu jayati’, artinya Panjalu (Kediri) menang. Istilah itu menjadi simbol kemenangan Panjalu atas Jenggala. Nah, kita usung momentum tersebut untuk spirit pemajuan seni di Sidoarjo”.

Kalimat beraroma seni dan sejarah itu dilontarkan oleh Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Sidoarjo. Yaitu, saya sendiri. Continue reading “Jayati Seni ing Tlatah Jenggala”

”Politik Masjid” Erdogan

Bernando J. Sujibto *
Jawa Pos, 17 Juli 2020

Setelah resmi mengembalikan fungsi Hagia Sophia sebagai masjid pada 10 Juli 2020, sosok Presiden Recep Tayyip Erdogan kembali menjadi magnet internasional. Beragam dukungan maupun kritik tumpah. Khusus negara-negara Eropa dan lembaga internasional mengkritik keras kebijakan Turki. Saya ingin menilik satu aspek menarik terkait langkah politik Erdogan yang telah menjadi bagian yang khas dan sekaligus melekat dengan dirinya, yaitu ”politik masjid”. Continue reading “”Politik Masjid” Erdogan”

Puisi, Perjalanan, dan Identitas Diri yang Terkoyak

Junaidi Khab *
Radar Surabaya, 4 Feb 2018

Di lingkungan Yogyakarta, gerakan literasi dan kultur hingga seni mendapat lahan empuk untuk terus hidup dan berkembang. Itu digawangi dari beberapa pecinta litarasi, bukan serta-merta penggerakknya secara dominan dari kalangan masyarakat Yogyakarta sendiri. Tetapi, mereka datang dari beberapa daerah yang hidup merantau di Yogyakarta untuk berjuang dan saling bertemu dengan sesama pecinta literasi. Dari peradaban satu visi dan misi ini, lahirlah Yogyakarta sebagai kota pendidikan, seni, budaya, dan literasi selain memang Yogyakarta kentara dengan ciri khas budaya dan tradisi masyarakatnya. Continue reading “Puisi, Perjalanan, dan Identitas Diri yang Terkoyak”

Pengarang Tionghoa dalam Konstelasi Kesusastraan Indonesia

Jemi Batin Tikal *
kreskit.pbsi.uad.ac.id, 3 Sep 2019

Karya sastra peranakan Tionghoa di masa lampau tercecer dan tak tercatat dalam sejarah kesusastraan Indonesia, sedangkan pengarang dan karya sastra peranakan Tionghoa di masa kini sulit diidentifikasi sebab telah berganti nama-nama yang terdengar seperti nama Indonesia dan melebur menjadi bangsa Indonesia. Di sisi lain, etnis Tionghoa jadi kehilangan identitas (baca: nama) mereka dan hilangnya identitas ini akan menyulitkan pencarian dan penelusuran kontribusi mereka bagi pembangunan bangsa Indonesia, khususnya dalam hal sastra. Continue reading “Pengarang Tionghoa dalam Konstelasi Kesusastraan Indonesia”