Kucing Keempat

Faisal Syahreza
http://www.lampungpost.com/

“AKU mempunyai sebuah impian untuk kota ini. Impian sederhana tentang sebuah rumah bagi seluruh kucing yang ada.” Lirih hatinya.

Anak itu pun berteduh di bawah atap bangunan pertokoan. Sementara jalanan masih mengambang dengan rintik hujan. Setiap hari memang tak menentu di kota, siang panas untuk kemudian sorenya diguyur hujan. Gerimis berlapis-lapis mengepung jalanan. Orang-orang tampak kedinginan, bersembunyi memelukan badannya sendiri. Suara mulai redam memasuki liris hujan. Continue reading “Kucing Keempat”

Pemakaman

Faisal Syahreza
http://www.lampungpost.com/

NINA tak menyadari siang itu tak hanya dia sendiri sebagai perempuan yang menangisi jasad suaminya saat dikebumikan. Ibu suaminya yang sekaligus mertua Nina, malah bukan lagi menangis. Beberapa jam lalu sudah pingsan tak sadarkan diri. Juga seseorang di balik pohon kersen yang rimbun daunnya meneduhkan. Tak jauh dari upacara pemakaman, seorang perempuan menumpahkan air mata tak kalah hebat dari Nina dan mertuanya. Gadis mempunyai wajah yang manis dengan lesung pipi serta senyuman yang indah. Perempuan itu bernama Rengganis. Continue reading “Pemakaman”

Percakapan Mata

Faisal Syahreza
http://www.suarakarya-online.com/

Ibu emang mau pergi kerja. Tapi tanpa lipstik dan bedak. Tanpa sebuah kemeja juga bahkan tanpa celana yang layaknya untuk kerja ke kantor. Ibu emang pegawai. Tapi aneh. Ibu tak punya kantor. Atau bisa dibilang terlalu banyak tempat ibu bekerja, hingga tak tahu persis aku di mana sih tempat ibu kerja sebenarnya. Jadwal ibu yang padat dan tak ada liburan, kecuali mungkin sakit, membuat waktu untuk mengurus aku sepertinya nol. Makanya ibu mengajak aku kerja, intinya ke mana ibu kerja aku selalu dibawa. Continue reading “Percakapan Mata”