Amir Hamzah dan Jalan Terjal Menuju Tuhan

Grathia Pitaloka
jurnalnasional.com

ADA banyak cara menuju Tuhan. Salah satunya seperti yang dilakukan Amir Hamzah melalui sajak-sajaknya. Dalam bait liris Amir berkeluh kesah tentang kerinduannya pada Sang Pencipta. Setelah Amir meninggal dunia, hampir tidak ada penyair Indonesia lain yang begitu bergetar rasa rindunya kepada Zat yang Mahagaib itu.

Amir terlahir sebagai seorang aristokrat Melayu. Ia merupakan anggota keluarga Sultan Langkat, bagian kelas feodal yang saat itu dipandang hormat oleh masyarakat. Continue reading “Amir Hamzah dan Jalan Terjal Menuju Tuhan”

9 Pertanyaan untuk Salman Aristo: Seimbangkan Idealisme dengan Industri Film

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

BERBICARA mengenai film Indonesia, tak genap rasanya bila tidak menyebut nama Salman Aristo. Betapa tidak, dua skenario film terlaris tahun 2008 yakni Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta lahir dari tangan dingin alumnus Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini.

Sejak masih kanak-kanak, Salman sudah jatuh cinta pada film. Namun, ia baru berkesempatan berkenalan lebih jauh tentang dunia film ketika duduk di bangku kuliah. Bersama teman-temannya yang rata-rata bergabung dalam Gelanggang Seni Sastra Teater Film (GSSTF), Salman mulai memproduksi film pendek. Continue reading “9 Pertanyaan untuk Salman Aristo: Seimbangkan Idealisme dengan Industri Film”

Jalan Indah Mencari Tuhan

Grathia Pitaloka
http://www.jurnalnasional.com/

Memaparkan pemandangan fisikal, mengurai pemaknaan hal-hal yang tidak kasat mata.

Keintiman manusia dengan Tuhan seringkali tercipta dalam balutan sunyi. Oleh para pujangga, suasana tersebut kerap diabadikan dalam puisi. Pada masa Pujangga Baru, Amir Hamzah mencoba mengartikulasikan sunyi menjadi bunyi dalam puisi Padamu Jua. Continue reading “Jalan Indah Mencari Tuhan”

Raibnya Kasta Dunia Sastra

Grathia Pitaloka
http://jurnalnasional.com/

Perkembangan sastra Indonesia mutakhir, diramaikan oleh semakin maraknya sastra cyber.

Dunia sastra kerap kali ditempatkan sebagai sesuatu yang sakral dan hanya bisa dimasuki oleh kalangan tertentu. Menulis sastra diibaratkan seperti seorang empu yang tengah menempa keris sakti mandra guna, tidak sederhana dan melewati ritus-ritus khusus. Continue reading “Raibnya Kasta Dunia Sastra”