Realitas Magis Han Gagas

Beni Setia *
suarakarya-online.com

TERMIN realisme ini merujuk ke konteks sastra, secara naif diartikan sebagai narasi deskripsif yang mengungkap aspek kehidupan riil/nyata secara langsung, lugas dan cermat. Meski sesungguhnya kenyataan obyektif tidak bisa utuh ditampilkan dan dikenali lagi seperti apa adanya, karena yang ditampilkan di dalam teks itu kenyataan yang telah diseleksi serta digarisbawahi kepentingan subyektif pengarang. Karena itu lahir sastra bercorak realisme psikis, realisme subyektif (James Joyce, Frans Kafka), atau bahkan realisme magis (Edgar Allan Poe). Continue reading “Realitas Magis Han Gagas”

Gemerincing Malam

Han Gagas
Kedaulatan Rakyat, 24 Juli 2011

Pada peristiwa itu, mulanya aku sungguh tak percaya. Malam turun bersama rintik hujan yang membawa angin basah. Hawa dingin tak biasanya merajam tulang. Rasanya, sebenarnya, telingaku tak cukup mendengar, suara gemerincing pasukan berderap menembus malam. Tapi, akhirnya kepalaku disudutkan untuk menerimanya sebagai sebuah kenyataan. Karenanya, dengan akal sehat aku berani menyiarkan peristiwa itu sekarang ini. Continue reading “Gemerincing Malam”

Layang-layang

Han Gagas
Minggu Pagi Jogja, 1 Mei 2011

Ia tak melihat, sehelai daun melayang dengan pelan dan lembut, sedikit memutar, lalu rebah di bahu kirinya. Daun itu masih saja bergerak pelan, ketika ia menoleh ke kiri, dan melekatkan matanya lebih kuat pada sesuatu yang gelap di sana. Continue reading “Layang-layang”

Susuk Kekebalan

Han Gagas
Republika, 28 Maret 2010

Hatiku gamang saat kaki menjejak pematang dan menyusuri setapak. Gelap turun sempurna memerangkap semua rumah dan pepohonan. Bulan, walau separo, cahayanya berhasil membuat bayang-bayang pohon memanjang dan membesar, dan angin menjadikannya bergoyang-goyang. Di depan, nampak sebuah rumah limasan kabur disinari lampu senthir, membiaskan sinar suram. Lengang. Continue reading “Susuk Kekebalan”

Seorang Peranakan yang Suka Berbicara dan Berimajinasi Sendirian

Wawancara dengan Mardi Luhung

Han Gagas *

Saya pertama kali mengenal nama Mardi Luhung -seingat saya- di lembar puisi di koran nasional. Seingat saya dua kali muncul. Nama itu lalu mengambang di kepala saya. Hingga suatu ketika saya menemukan nama itu lagi di lembar cerpen koran nasional yang lain. Karena cerpen adalah bidang penulisan yang saya geluti, saya membaca cerpennya itu, dan saya sedikit bengong akan imajinasinya yang ndladrah-ndladrah, mengalir dan mengocor terus. Saya mulai mengingat nama Mardi Luhung di benak saya. Continue reading “Seorang Peranakan yang Suka Berbicara dan Berimajinasi Sendirian”