“Ada kalanya saya marah begitu keras dan adakalanya saya mendekapnya demikian erat!”

Bincang-bincang dengan Wijang Wharek
Han Gagas
http://pawonsastra.blogspot.com/

Aku menyusuri jalan terjauh dibanding selama ini yang pernah kutempuh. Jalan besar dan panjang dengan berbagai kendaraan lalu lalang di kanan kiri. Tubuhku masih agak sakit namun janji adalah janji, aku meneguhkan diri untuk berlanjut, jadwal yang mundur 1-2 jam malah membuatku lebih leluasa menaiki kendaraan. Melewati stadion Manahan di Kota Solo dan terus melaju hingga resort terbesar di Solo, Lor In, motor berbelok sebentar ke belakang kantor Bulog menjemput esais kita, Bandung Mawardi, dibelakang motor saya ternyata Poetri telah melaju dengan pelan, sendiri. Continue reading ““Ada kalanya saya marah begitu keras dan adakalanya saya mendekapnya demikian erat!””

Menulis Puisi Itu Berbahaya!, bincang-bincang dengan Sosiawan Leak

Yudhi Herwibowo, Han Gagas
pawonsastra.blogspot.com

Menemui Sosiawan Leak di rumahnya yang menyudut, lengang, karena agak terpencil menciptakan keintiman yang gayeng. Malam telah turun lebih sempurna, beserta Yudhi Herwibowo, saya menemui di lantai atas rumahnya yang bermotif etnik dan lapang. Sebelumnya seorang putrinya menyalami kami dengan takzim, lalu disusul anak laki-lakinya, disertai sapaan senyuman dari istri profil kita kali ini, perempuan berkerudung yang nampak habis sibuk di sebuah ruangan. Keadaan rumah yang bersih tertata rapi dengan anggota keluarga dan perilakunya yang santun lumayan menggeser persepsi awal saya tentang Mas Leak yang lebih sering nampak kusut dan kurang rapi. Begitulah Leak dimana-mana akan selalu apa adanya. Continue reading “Menulis Puisi Itu Berbahaya!, bincang-bincang dengan Sosiawan Leak”

Bangunan Itu Menelan Ibu dan Bulanku

Han Gagas
http://suaramerdeka.com/

AKU begitu suka melihat bulan. Entah kenapa. Mungkin karena bulan adalah benda yang kali pertama kulihat. Dulu.

Setiap bayi ketika mampu melihat dunia selalu dijemur di bawah matahari. Memang aku mengalami itu tapi tak cuma begitu. Ayahku -yang merupakan satu-satunya orang tua-membawa mataku pada rembulan dan kecerahan malam dengan bintang-gemintang. Tentu saja dengan balutan kain berlipat-lipat yang membungkus tubuh. Continue reading “Bangunan Itu Menelan Ibu dan Bulanku”

Antara Rumah dan Kebun

Han Gagas
http://www.lampungpost.com/

AKU terbangun di tengah malam oleh rasa lapar. Perut yang melilit dan keroncongan telah mengalahkan kantukku yang berat. Sebungkus mi instan mulai aku siapkan tapi tercium bau harum menusuk hidung menghentikan aktivitasku. Bau seperti bunga mawar, atau melati, tapi juga mirip harumnya kantil. Ahh, bukankah ketiga kembang itu adalah bunga ziarah. Hatiku berdesir. Continue reading “Antara Rumah dan Kebun”