Siapa Mau Jadi Orang Indonesia?

Hardi Hamzah*
http://www.lampungpost.com/

MERCY ce livre (terima kasih pada buku), good book is the great friend (buku yang baik adalah kawan setia). Dua istilah Prancis dan Inggris ini tidak dikenal dalam buku Jujur Saya Tidak Jujur karya Sudarmono yang diterbitkan Lampung Post, April lalu.

Tidak dikenal, bukan karena kita tidak pernah berterima kasih pada buku atau melihat buku sebagai barang biasa, tetapi yang terasa memang Sudarmmono dalam bukunya ini, jauh dari barat, jauh dari westernisasi. Continue reading “Siapa Mau Jadi Orang Indonesia?”

Terjerembap dalam Budaya Human Material

Hardi Hamzah*
http://www.lampungpost.com/

Dalam siklus kebudayaan global, secara klasik kita mengenal proses sentrifugal yang diliputi semangat human material. Human material, suatu bentuk anarkistis manusia untuk mencari nafkah tanpa mengindahkan kaidah-kaidah norma.

DALAM filsafat Aufklarung hal ini disebut sebagai “merengkuh” dunia tanpa etika. Bahkan, para antropolog modern melihatnya sebagai terma-terma “kebuasan” makhluk manusia dalam menapaki hidup. Continue reading “Terjerembap dalam Budaya Human Material”

Perspektif Gembira Sastra Lampung

Hardi Hamzah*
http://www.lampungpost.com/

Spektrum menggagas sastra daerah, tentu banyak kendala. Namun, dengan munculnya dua karya ini, kita seakan terhenyak, karena ternyata masih ada, dan mudah-mudahan bertambah.

Setelah gebrakan spektakuler buku puisi Mak Dawah Mak Dibingi karya Udo Z. Karzi (BE Press, 2007), yang merambah ke tingkat nasional, akhir tahun lalu kita diperkenalkan dengan dua karya sastra yang cukup menggelitik. Continue reading “Perspektif Gembira Sastra Lampung”

Kasak-Kusuk Problematika Kebudayaan Massa

Hardi Hamzah*
http://www.lampungpost.com/

ROMANTISME kebudayaan massa, kiranya masih bersikukuh pada lahan ide dan diskursus yang tidak implementatif.

Dua ribu delapan sebagai tahun tikus, kenyataannya musti menggererek pula di proses kebudayaan. Binatang yang biasa mengerat ini, hanya membuat gigitan spontan kemudian perlahan mengunyahnya, meski tikus perlambang dari kerakusan yang menahan diri. Continue reading “Kasak-Kusuk Problematika Kebudayaan Massa”

Kekalahan Kita terhadap ‘Post-Modernism’

Hardi Hamzah
http://www.lampungpost.com/

“Ada yang tertinggal di dalam dunia post-modernism,” ujar David Legman (2003). Artikel yang ditulisnya pada News Week edisi Maret tahun yang sama semakin mengingatkan kita tahu bahwa post-modernism yang diusung secara kultural oleh agamawan, politisi, dan cendekiawan ternyata melahirkan bangsa yang rendah. Indonesia-lah yang mungkin terakhir kali sebagai suatu bangsa dikoloni oleh bangsa-bangsa lain. Continue reading “Kekalahan Kita terhadap ‘Post-Modernism’”