Gokma

Hasan Al Banna
http://suaramerdeka.com/

ANAK-ANAK tangga berderak. Langkahnya menyerah pada dakian ketiga. Tinggal dua tatih lagi, tapi ia harus menata engah napas. Menyibak urai rambut yang kusut. Ya, tatapan yang nanar musti dibeningkan lagi. Sebab, pintu belakang rumah panggung di hadapannya, sekonyong-konyong oleng, memunculkan bayangan yang kacau. Ia lantas meraba bundar perut dengan putaran tapak tangan. Perutnya terasa kian padat dan berat. Sesekali menyesakkan dada, kadang kali mendesak-desak jauh ke bawah pusar. Sambil mengatur alur napas, perempuan itu menyabit belukar peluh ?yang tumbuh di dahi dan leher? dengan lengkung jemarinya. Continue reading “Gokma”