Dihilangkannya Orang-orang Sekaroh

Hasan Gauk *

Hari itu hujan mengguyur kampung Sekaroh, tak ada seorang pun yang duduk di beranda seperti hari-hari sebelumnya, barangkali mereka sudah bosan melihat hujan, atau setidaknya telah jenuh oleh hawa dingin yang menggerogoti daging tipisnya. Apa jua yang harus dilihat di malam gelap tanpa penerangan, hujan? Tentu masyarakat yang hidup di pinggiran hutan Sekaroh, tidak pernah menjadikan hujan itu wahana hiburan, atau sekadar menikmati rintik-rintiknya sebagai kejadian yang ditunggu-tunggu. Justru, tak sedikit masyarakat yang membenci fenomena langit tersebut. Continue reading “Dihilangkannya Orang-orang Sekaroh”

Buku, dan Terjaganya Kebodohan

Hasan Gauk *

Akhir-akhir ini saya disibukkan dengan kegiatan riset, turun setiap hari menemui masyarakat, mewawancarai, juga ke beberapa lembaga pemerintahan. Tak jarang menginap di rumah warga, jika narasumber yang saya temui melarang saya pulang malam, “Daerah ini masih rawan, Nak, mending menginap saja.” Sebenarnya, saya sama sekali tidak pernah khawatir itu, toh beberapa orang tetua dari si pembuat resah masyarakat saya kenal baik. Continue reading “Buku, dan Terjaganya Kebodohan”

Di Indonesia, tidak ada orang kebal, kecuali mereka yang berduit

Hasan Gauk *

Saya mulai percaya dengan adanya ilmu kebal saat kelas tiga SMK. Waktu itu, seorang kawan kena bacok di salah satu tontonan rakyat (bejanggeran). Saya gemetar sambil menangis melihat perutnya sobek, karena tidak bisa membalas orang yang membuat perut kawan saya robek, lantaran kami tidak ada persiapan apapun waktu itu, bawa pisau atau parang misalnya. Juga sebab saya tidak memiliki cukup kekuatan untuk menangkal besi-besi yang mungkin akan mengayun ke leher saya. Continue reading “Di Indonesia, tidak ada orang kebal, kecuali mereka yang berduit”