Cinta Gila

Heru Kurniawan*
http://www.sinarharapan.co.id/

“Aku mencintaimu,” kata ini meluncur dari seorang pemuda yang berpakaian rombeng dan belepotan kotor. Ia nyengir, seperti tak ada beban berkata seperti itu. Dan perempuan yang diajaknya bicara hanya cengar-cengir, menggerak-gerakkan tubuhnya yang terbalut kain kotor. Ia senyam-senyum, cengengesan dan mengulum ibu jarinya.
“A…..pa, akang mencintaiku,” kata perempuan itu pelan dan lenjeh, “aku juga mencintai akang,” lanjutnya. Continue reading “Cinta Gila”

Eksistensialisme Makna Karya Sastra

Heru Kurniawan*
http://www.lampungpost.com/

Menurut Ricoeur dalam bukunya Interpretation Theory: Discourse and Surplus Meaning, Tradisi Posivistik-Logis telah menciptakan pembedaan antara makna eksplist dan makna implisit yang diperlakukan sebagai perbedaan antara bahasa kognitif dan emotif yang dalam tradisi strukturalisme disebut juga dengan makna denotasi dan konotasi. Persoalannya adalah di manakah makna karya sastra meletakan paradigma filosofisnya? Continue reading “Eksistensialisme Makna Karya Sastra”

Tauhid sebagai Esensi Estetika Sastra Sufi

Heru Kurniawan
http://www.lampungpost.com/

APA yang ingin saya diungkapkan ini mengenai paradigma pemahaman sastra sufi dilihat dari fondasi Islam dan epistemologi sastra. Penggabungan keduanya, menurut saya, akan menghasilkan suatu paradigma sastra sufi yang logis. Sekalipun pengertian ini bersifat analogis, tetapi dapat dijadikan sebagai perspektif dalam memosisikan sastra sufi, yang sampai saat ini paradigmanya masih rancu karena dikaburkan oleh cara pandang subjektif sebagai pengaruh etika agama yang tidak dilihat secara keilmuan. Hasilnya, cara pandang paradigma sastra sufi dalam kesusastraan Indonesia masih terbelenggu oleh romantisme dan keyakinan Islam yang sempit. Continue reading “Tauhid sebagai Esensi Estetika Sastra Sufi”