Inlanderisasi dalam Sastra Indonesia (1) *

Hudan Hidayat **

Keju dan roti, senjata api dan organisasi, adalah benda dan cara hidup yang dibawa kolonialisme, puak manusia yang telah mendayakan akalnya atas alam, dan bertopang atas daya itu, mendiktekan kemauannya pada anak jajahan. Puak yang ditempa oleh alam yang ganas, sampai tata pikir dan hidup, seolah hanya urusan mengalahkan alam. Bukan bingkai manusia yang bekerja-sama dengan alam. Maka penaklukkan atas manusia, adalah terusan dari penaklukkannya atas alam. Continue reading “Inlanderisasi dalam Sastra Indonesia (1) *”

Terowongan Maut Kohar Ibrahim

Dari Penerbit: Novel Sitoyen Saint-Jean: Antara Hidup Dan Mati ini berkisahkan seorang anak manusia, salah seorang putera kelahiran Jakarta 1942 yang mencintai tanah tumpah darahnya, bangsanya, kebudayaannya dan tentu saja Negara Republik Indonesia yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945 oleh Bung Karno dan Bung Hatta. Namun setelah keberangkatannya pada 27 September 1965 ke Tiongkok kemudian terjadi Tragedi Nasional 1965, anak tunggal pasangan Ibrahim & Maemunah yang memiliki cita-cita dan ragam impian ini terpaksa menjadi salah seorang yang oleh mantan Presiden R.I. Gus Dur sebagai “kaum kelayaban” di Mancanegara alias kaum eksilan. Continue reading “Terowongan Maut Kohar Ibrahim”

Kritik Sastra – Memperkukuh Sains Sastra

Hudan Hidayat

Seperti ketika seseorang mencari alamat tempat tinggal seseorang yang lain dengan jalan berputar-putar, sains fisik pun akhirnya harus berhadapan dengan ukuran benda-benda: ia mengoperasikan aritmatika untuk menghitung panjang dan lebarnya alam. Atau, geometri untuk memahami ruang-ruang. Ia membuat hipotesa tentang massa dan energi dalam sebuah benda, dan atau relasi benda-benda. Ilmuwan bertekun di dalam laboratorium. Rumit, tetapi bukan hal yang mustahil. Continue reading “Kritik Sastra – Memperkukuh Sains Sastra”

Naskah-naskah Sastra

– suatu renungan untuk jurnal sastra tuhan hudan

Hudan Hidayat, Sisca

kami berdua di jurnal sastra tuhan hudan, sudah menyelesaikan persoalan persoalan sekat dalam bahasa, sekat geografis, sekat ideologis, sekat juga dalam agama agama. bagi kami itu hanyalah suatu cara tumbuh, suatu lingkungan budaya dan kebudayaan berkembang, bukan suatu yang membuat, di mana kemanusiaan tampil dalam dikotomik, apalagi lebur sebagai suatu cara hidup dengan ancang ancang untuk mematikan. Continue reading “Naskah-naskah Sastra”

Bangunan Matahari – puisi cepi sabre

Hudan Hidayat

Puisi ini sampai padaku seolah nyanyian dari repetisi suatu identitas seseorang, yang disebutnya sebagai pak tukang, pak tukang pak tukang.

Tentu saja kita sudah bersiap membaca puisi ini: dari judulnya, “kuli bangunan”, sebuah lanskap orang miskin, lamat lamat sudah bangkit di dalam jiwa kita. Bahwa kita akan bertemu dengan kehidupan kuli bangunan yang miskin. Sebab identitas kuli bangunan, adalah suatu profesi yang jarang membuat manusia kaya. Kuli bangunan, bahkan adalah suatu pekerjaan yang tak menetap, pekerjaan paro waktu. Dan itu: miskin. Continue reading “Bangunan Matahari – puisi cepi sabre”