Nasionalisme dan Kebudayaan

Ignas Kleden *

DALAM sejarah politik Indonesia, nasionalisme rupa-rupanya pernah dianggap bertentangan dengan kebudayaan. Dalam arti itu, antropolog Clifford Geertz umpamanya menulis panjang-lebar tentang primordial sentiments dan national integration. Diambil secara gampangnya, apa yang dinamakan sentimen primordial adalah perasaan-perasaan yang erat hubungannya dengan kebudayaan, khususnya dengan faktor-faktor yang dianggap given dalam kebudayaan, seperti hubungan darah, kesamaan daerah, kesamaan asal-usul, bahasa ibu, atau warna kulit. Continue reading “Nasionalisme dan Kebudayaan”

Sosialisme dari Tepi Sungai Elbe

Ignas Kleden *
Kompas, 6 Juli 1996

HARI itu tanggal 23 Juni 1996, dua hari setelah awal musim panas yang di Eropa selalu dimulai pada 21 Juni. Suhu masih pada 10 hingga 12 derajat Celsius, meski pun dalam keadaan normal suhu biasanya sudah di atas 30 derajat C. Setelah melewatkan seminggu konferensi European Collogium on Indonesian and Malay Studies ke-10 yang amat padat-acara di Universitas Humboldt, Berlin, (17 – 22 Juni 1996), para peserta membuat acara sendiri untuk mengisi waktu senggang mereka, sebelum kembali ke tanah air masing-masing: Australia, Inggris, Italia, Rusia, Belanda, Malaysia, Jerman, Swis dan Indonesia. Continue reading “Sosialisme dari Tepi Sungai Elbe”

DUNIA KETIGA

(Esai untuk Ulang Tahun Dr Ignas Kleden, 1948-19 Mei-2013)
Gusti Tetiro

I

Saya hampir yakin bahwa ketika kita mendengar atau membaca istilah ‘dunia ketiga’, pikiran kita pertama-tama akan terarah pada istilah untuk menggambarkan negara-negara tertinggal atau yang dalam istilah orde baru: lepas landas. Indonesia dan beberapa negara lainnya pernah disebut sebagai dunia ketiga. Mungkin sampai saat ini dengan istilah lain. Continue reading “DUNIA KETIGA”

MENGGIRING KE WILAYAH TANDA TANYA

Monolog untuk Buku MMKI – Nurel Javissyarqi
Iskandar Noe

Ya, awalnya catatan saya untuk MMKI bersifat teknis. Yang saya kritisi itu fisiknya kerna yang saya lihat dan pahami lebih dulu kan sosok fisiknya. Itu mulai dari Cover, Sub-titles, Pengantar dan Bagian- Bagian. Dan simpulan saya pada catatan waktu itu ya lebih bersifat umum. Saya juga berpesan pada penulisnya bahwa saya belum selesai membacanya. Continue reading “MENGGIRING KE WILAYAH TANDA TANYA”

Membaca Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia:


Membaca Subyektivitas (Nurel) atas Subyektivitas (Ignas Kleden dan Sutardji Calzoum Bachri)
Siwi Dwi Saputro *

Telah hadir buku Esai (mungkin kritik juga) yg berjudul Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia yang ditulis oleh Nurel Javissyarqi. Buku setebal 500 halaman ini semakin mengukuhkan pandangan bahwa kritik sastra itu merupakan karya kreatif juga.

Sastrawan menafsirkan hidup dan lalu menuliskan ke dalam karya sastra. Kritikus sastra menafsirkan karya sastra dan lalu menuliskannya dalam bentuk kritik sastra.
Jadilah kritik sastra sebagai karya re-kreasi. Kreasi atas kreasi, tafsir atas tafsir. Continue reading “Membaca Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia:”