Budi Darma dan Kota

Imam Muhtarom
http://cetak.kompas.com/

Seringkali yang terabaikan dalam membaca karya-karya Budi Darma adalah kaitan antara tokoh-tokoh yang terkenal dengan karakternya yang aneh dengan latar kota baik dalam arti latar fisik maupun latar sosial. Tokoh-tokoh macam Joshua Karabish, Ny Elberhart, Fanton Drummond, Olenka, Rafilus, dan Ny Talis, hanya dilihat sebatas bagaimana tokoh-tokoh tersebut tampak secara psikologis. Sekalipun cara ini memang dimungkinkan secara tekstual, namun untuk melihat bagaimana tokoh-tokoh dalam karya Budi Darma mewujud tidak bisa dilepaskan dari proses sosial yang memungkinkan tokoh-tokoh memiliki perwatakan yang aneh, pahit, kurang ajar, jauh dari norma sosial yang ideal. Continue reading “Budi Darma dan Kota”

Tatapan Mata Anjing Itu

Imam Muhtarom
http://www.suaramerdeka.com/

AKU sangat berharap lelaki itu datang tepat ketika aku sudah duduk di kursiku. Lelaki itu sangat kubenci. Perawakannya yang menyebalkan seperti merasuk dalam benakku. Kami ingin memukulnya saja bila ada kesempatan. Tetapi sulit sekali kesempatan itu datang. Justru lelaki itu yang sesungguhnya memiliki kesempatan untuk membuat diriku terpelanting dari dudukku selama ini. Lelaki itu bisa saja mengambil alasan bahwa aku tidak becus bekerja dengan bukti-bukti yang selama ini kulakukan. Aku selalu waswas dengan pikiranku selama ini. Continue reading “Tatapan Mata Anjing Itu”

Konstatasi Ruang Kota dalam Seni Rupa

Imam Muhtarom*
http://www.jawapos.co.id/

Ruang dalam kota adalah sebuah panggung bagi para penghuni kota. Panggung itu, antara lain, berupa mal, jalan, tempat hunian, kantor, alat transportasi, terminal, toilet di gedung DPR, dan sebagainya. Dalam panggung, para penghuni kota tak ubahnya para aktor yang tengah memainkan peran masing-masing. Peran yang dibawakan oleh para aktor itu tidak saja bergantung pada kelas sosial, tetapi juga negosiasi terus-menerus para aktor dengan ruang di kota tersebut. Continue reading “Konstatasi Ruang Kota dalam Seni Rupa”

Jiwa Manusia Kota dalam Cerpen

Imam Muhtarom*
http://jurnalnasional.com/

Pelajaran yang berharga dari membaca cerpen maupun novel karya Budi Darma kita disadarkan bahwa manusia itu pada hakikatnya berjiwa. Jiwa inilah yang mengatasi dunia material tempat ia berada. Dalam khasanah sastra Indonesia posisi karya-karya Budi Darma sudah jelas letak dan sumbangannya. Juga semakin jelas perbedaannya apabila kita membandingkannya dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Semua karya Pramoedya memberi pelajaran pada kita bahwa manusia pada dasarnya pertarungan tak selesei antara kelas penguasa dengan kelas yang dikuasai. Jika pada karya-karya Pramoedya berpijak pada material, maka bisa dikatakan karya-karya Budi Darma berpijak pada yang immaterial, jiwa. Continue reading “Jiwa Manusia Kota dalam Cerpen”

Ironi Barat dalam Novel

Imam Muhtarom*
http://www.jawapos.com/

Novel tidak memiliki aturan baku agar pembaca mengikuti jalannya cerita mulai awal hingga akhir. Aturan baku tersebut, antara lain, terlihat pada semua novel yang beredar di masyarakat pembaca, yakni dengan alur pembuka-konflik-penyelesaian. Juga, alur tersebut tidak saja menjadi acuan utama dalam novel, tetapi juga di dalam film. Terutama dalam film produksi Hollywood, alur itu mendapat kedudukan penting bagaimana sebuah materi cerita disusun seolah-olah alur tersebut satu-satunya strategi agar sebuah film bisa dibuat dan dinikmati. Dalam novel, alur semacam itu nyaris tidak dipertanyakan lagi, baik di kalangan penulis sastra maupun pembacanya. Sejauh dapat mengetengahkan konflik secara menarik kemudian pembaca bisa mengapresiasinya, novel dipandang telah menjalankan tugasnya. Continue reading “Ironi Barat dalam Novel”