Puisi-Puisi Indra Tjahyadi

suarakarya-online.com

Musim Hanya Tinggal Gempa

Mayat ingatanku yang menginsyafi badai
mengganyangi kupu-kupu. Seratus siulan pelangi melesat
Dari balik mendung, berserapah pada rindu. Serupa
tikus, aku impikan keremajaanmu,
tapi tanpa sorban, pengetahuanku dekaden
dikuliti laknat hantu-hantu. Seratus kejemuan
yang diriwayatkan perusuh menemukan kota-kota
khayalanku yang hangus. Continue reading “Puisi-Puisi Indra Tjahyadi”

Sajak-Sajak Indra Tjahyadi

suarapembaruan.com

Jalan Menuju Masa Lalu

Bulan pipih tugur di langit suntuk. Di likut senyap kabut
tubuh yang ringkih hanya menyisakan batuk. Selalu
kubaca wajahmu di sela sunyi dan rasa kantuk. Wajahmu
adalah sebentang jalan menuju masa lalu, tempat hujan dan rasa
sakit menciptakan kebisingan tak berujud.
Kesunyian adalah sehelai daun yang jatuh di malam larut.
Kota makin bisu, makin sumuk. Kegelapan menyerap
segala pengetahuanku yang cuma seteguk. Continue reading “Sajak-Sajak Indra Tjahyadi”

Puisi Sufistik Palsu, Gelap, dan Dekade 1980-an

Tanggapan untuk Beni Setia

Indra Tjahyadi *
suarakarya-online.com

Ada dua hal menarik yang diutarakan oleh Beni Setia dalam tulisannya yang berjudul “Dandyisme Puisi 80-an” (Suara Karya, 25 November 2006), yakni: (a) tentang keberadaan puisi sufi, dan (b) perihal puisi gelap. Dalam esainya tersebut Beni Setia menyatakan bahwa puisi sufistik era 1980-an tidak lahir dari pengalaman riil, bukan ungkapan sesuatu yang Prima, tapi cuma dandyisme tema. Oleh sebab itu, menurutnya, puisi sufistik dekade 1980-an merupakan puisi palsu. Continue reading “Puisi Sufistik Palsu, Gelap, dan Dekade 1980-an”

Dandyisme Puisi ’80-an

Beni Setia
suarakarya-online.com

TULISAN Indra Tjahjadi (Suara Karya, 18/11. 2006), dengan konteks perpuisian dekade 80-an mengapungkan tiga poin. Oleh Indra Tjahjadi diungkapkan adanya dua genre perpuisian yang dominan di dekade 1980-an. Pertama, corak puisi gelap yang dominan. Dua, corak puisi sufistik yang signifikan menggejala. Dan ketiga: posisi kepenyairan Aming Aminoedhin dalam peta perpuisian saat itu. Continue reading “Dandyisme Puisi ’80-an”