Tentang Cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon Dadang Ari Murtono

Indrian Koto
31 Januari 2011 jam 1:40
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150089188639318

Saya melampirkan dua tulisan dengan tidak menyertakan komentar2 di bawahnya tentang kasus cerpen Dadang Ari Murtopo yang dumuat di Kompas minggu 30 Januari 2011 dan sebelumnya di muat di Lampung Post 5 Desember 2010. Sebelumnya Bamby Cahyadi menulis di status FB-nya ketika pertama kali cerpen itu dimuat di lampung post tentang beberapa cuplikan bagian yang dianggap plagiasi tersebut Continue reading “Tentang Cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon Dadang Ari Murtono”

PERNYATAAN SIKAP FORUM PEDULI BUDAYA ALAM MINANGKABAU (F-PBAM)

Setelah membaca dan mencermati laporan pertunjukan Teater Sakata di Harian Jogja, Senin, 4 Mei 2009, halaman 12 berjudul “Pentas 3 Perempuan: Angkat Konflik Perempuan di Rumah Gadang” ide dan sutradara Tya Setiawaty, Sabtu, 2 Mei 2009, bertempat di Studio Teater Garasi Yogyakarta, kami menemukan kejanggalan yang sangat fatal dalam paragraf pertama laporan tersebut, yakni pada kalimat: Apalagi, adat Minangkabau yang memperbolehkan perkawinan poliandri, satu perempuan menikah dengan banyak laki-laki. (dokumentasi terlampir) Continue reading “PERNYATAAN SIKAP FORUM PEDULI BUDAYA ALAM MINANGKABAU (F-PBAM)”

Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan

Indrian Koto
Riaupos 3okt2010

Tulisan Romi Zarman yang berjudul Tiga Catatan di Riau Pos Edisi Minggu 19 September 2010 terkesan terburu-buru memandang ragam soal dalam sastra. Lantaran banyaknya hal yang ingin dia gugat, perlu kiranya ada respon untuk membuka sebuah dialog. Harapan saya akan ada diskusi dan bahasan yang lebih spesifik untuk setiap persoalan. Continue reading “Dari Ambivalensi Hingga Berladang di Punggung Sastrawan”

Sajak-Sajak Indrian Koto

http://www.lampungpost.com/
Dirimu yang Tak Pulang

Akan kuberikan semua yang kau minta. Tak ada yang kuambil darimu
selain kenangan. Aku khawatir kau membuangnya di jalan. Ketika
kau merindukannya, aku masih punya. Percayalah, hidup hanyalah
lingkaran kecil yang itu-itu juga.
Kukembalikan semua yang pernah kuambil. Tak ada yang kusembunyikan darimu
selain ingatan. Aku khawatir masa lalu tumbuh besar di musim hujan. Continue reading “Sajak-Sajak Indrian Koto”