‘Pukau Teluk Semaka’

lampungpost.com

:Catatan Batu Bedil Award 2010

Metafora merupakan jalan tengah antara hal yang tak bisa dipahami dan hal-hal yang bersifat umum. (Aristoteles)

MENGGAGAS strategi kebudayaan tidak bisa bertolak dari ruang hampa. Ia harus senantiasa diperhitungkan. Terlebih lagi sinyalir para cerdik cendikia yang menyebutkan bahwa bangsa ini tengah mengalami defisit kebudayaan. Maka dalam konteks sastra, sebagai penopang struktur budaya, kegiatan yang memacu apresiasi dan kreativitas masyarakat harus pula diperhitungkan dengan bijak. Continue reading “‘Pukau Teluk Semaka’”

Perempuan yang Menyembul dari Semak Malam

Isbedy Stiawan ZS
http://www.sinarharapan.co.id/

IA menyembul dari semak malam. Tak ada penerang jalan di tempat itu, sehingga aku sulit memastikan dari gang atau arah mana dia datang. Suasana benar-benar gelap dan sunyi pada pukul dua dini hari.

Seperti datang dari suatu tempat tak bernama, dan tiba-tiba ia sudah berada di hadapanku. Membuatku kaget. Aku terpana seperti ketika aku digoda makhluk halus di bangunan kosong. Karena itu, semula kukira ia bukan sejenis manusia. Tetapi dari napasnya yang kudengar masih tersengal-sengal seperti orang baru lari, kupastikan kalau ia sedang mencari pertolongan. Continue reading “Perempuan yang Menyembul dari Semak Malam”

Sembunyi-sembunyi ?di Negeri Bolqiah?

Isbedy Stiawan Zs
http://wisata.kompasiana.com/

PADA 16-20 Juli lalu, bersama sejumlah penyair Indonesia, saya mengunjungi Brunei Darussalam?negerinya Hasanal Bolqiah yang kayaraya itu. Turun dari pesawat Royal Brunei di Bandara Bandarseribegawan, rombongan dari Cengkareng disambut hangat para panitia.

Cukup lama juga kami berada di loby bandara, karena ada seorang peserta yang memiliki parpor sudah kadaluwarsa sehingga harus mengurus surat-surat bebas masuk negeri yang mesjidnya semuanya megah dan indah itu. Continue reading “Sembunyi-sembunyi ?di Negeri Bolqiah?”

Sepekan Jelang Lebaran

Isbedy Stiawan ZS
http://www.suarakarya-online.com/

IJAH yakin kalau Mas Parman akan pulang sepekan menjelang lebaran, seperti dia tulis dalam suratnya dua pekan lalu. Dia makin optimis tatkala suaminya menelepon lima hari lalu. Setengah berlari Ijah menuju rumah tetangganya yang memiliki pesawat telepon, karena lakinya menelepon ke pesawat itu.

“Kamu sehat-sehat kan? Si Gembul juga sehat, mana dia?” ujar Parman begitu telinga Ijah menempel di gagang telepon. Gembul adalah panggilan Parman buat anak kedua, yang sementara sebagai bungsu.
“Sehat, mas. Continue reading “Sepekan Jelang Lebaran”