PRAMOEDYA ANANTA TOER: DARI HISTORI KE AHISTORI

Iwan Gunadi *

Suatu malam. Di sebuah toko buku besar di Jakarta. Lelaki berpostur tinggi besar dan berkulit agak legam itu berdiri di depan etalase yang memajang buku-buku Pramoedya Ananta Toer. Kemeja putih berlengan panjang dan pantalon melekat di tubuhnya. Jas hitam melapisi kemeja. Meski tanpa dasi, penampilannya mengesankannya sebagai seorang eksekutif muda. Tangannya menenteng kantong plastik transparan bercap nama toko buku itu. Continue reading “PRAMOEDYA ANANTA TOER: DARI HISTORI KE AHISTORI”

Standar Ganda Publikasi Karya Sastra

Iwan Gunadi
Riau Pos, 19 Juni 2011

SEORANG penulis cerita pendek (cerpen) dongkol lantaran cerpennya yang dimuat di dua media cetak berbeda digugat seseorang. Gugatan dalam salah satu surat pembaca yang muncul di media cetak yang terakhir memajang cerpennya itu menyalahkan pemuatan ganda tersebut. Kata si penggugat, pemuatan ganda itu merugikan pembaca dan cerpenis lain. Pembaca kehilangan kesempatan untuk menikmati cerpen atau informasi yang berbeda. Sementara cerpenis lain kehilangan peluang untuk ikut dimuat di media cetak itu. Continue reading “Standar Ganda Publikasi Karya Sastra”

Cerpen-Cerpen Mutakhir Indonesia: Membaca Bencana Alam Sekadar ‘Force Majuere’

Iwan Gunadi*
Lampung Post, 13 Des 2009

Meski Indonesia terbilang sering dilanda bencana alam, termasuk dalam skala korban yang besar, sejak dulu, tak banyak karya sastra yang mengeksplorasinya.

KITA mafhum, Indonesia rawan gempa. Kita juga mafhum, Indonesia akrab banjir. Masyarakat di sekitar Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), diwanti-wanti menghadapi letusannya, tapi yang lebih dulu menghentakkan malah gempa yang menewaskan ribuan penduduk di DIY dan Jawa Tengah, akhir Mei 2006. Continue reading “Cerpen-Cerpen Mutakhir Indonesia: Membaca Bencana Alam Sekadar ‘Force Majuere’”