Sardi Kolot Gembel Kesohor

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

JEJARING sosial, kata orang, bisa membuat kenangan masa kecil hadir kembali. Setidaknya ini terjadi tatkala sobatku Dahta menulis status di akun Facebook-nya, “Aku bukan anak Tanjungkarang. Aku anak Hajimena. Tapi aku sering nongkrong di Tanjungkarang saat SMA. Jadi aku tidak tahu siapa gerangan Sardi Kolot. Jika berkenan, ceritakanlah padaku tentang Sardi Kolot….” Continue reading “Sardi Kolot Gembel Kesohor”

Pembelaan Hawa

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

Namaku Hawa alias Eva,
boleh juga kaupanggil aku Eve
bila memang kau penutur bahasa Inggris
kalian mengenalku karena akulah ibu pertama
dari rahimku dan gua-garba kaumkulah kalian berasal
tapi dalam asuhan patriarki
anakku lanang menjelma si malin kundang
yang menghujat ibunya sendiri Continue reading “Pembelaan Hawa”

Raja Zalim Raja Disanggah

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

Dewasa ini dunia tengah menyaksikan pergolakan rakyat di dunia Islam di Jazirah Arab dan Afrika Utara demi menumbangkan penguasa lalim yang menguasai negaranya. Dimulai dari Tunisia di Afrika Utara, berlanjut di Mesir dengan Presiden Hosni Mubarak yang digulingkan setelah berkuasa 30 tahun, di Yaman dengan Presiden Ali Abdullah Saleh yang telah berkuasa 32 tahun, di Libya dengan Presiden Moammar Khadafi yang telah berkuasa 41 tahun, di Bahrain dengan Raja Hamad bin Issa al-Khalifa, Continue reading “Raja Zalim Raja Disanggah”

Teater Feminis

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

Teater yang memperjuangkan nasib kaum perempuan, sebutlah teater feminis, sejatinya sudah lahir paling tidak pada abad ke-5 M di Yunani kuno manakala Aristophanes menulis lakon Lysistrata.

Lakon itu bercerita tentang gerakan kaum perempuan yang memanfaatkan seks sebagai senjata untuk menuntut persamaan hak antara lelaki dan perempuan dalam kehidupan sosial-politik. Continue reading “Teater Feminis”

Pesta Makna di Dermaga Puisi

Iwan Nurdaya-Djafar
http://www.lampungpost.com/

Menikmati puisi-puisi Fitri Yani, saya sungguh terlena dibuai oleh kemerduan bunyinya. Ciri ini yang menandai banyak puisinya, tak pelak telah membuatnya menjadi makna untuk puisi-puisinya. Makna, bukanlah pesan. Makna bukan untuk dipahami, melainkan untuk dihayati.

DERMAGA Tak Bernama (Siger Publisher, 2010, 83 halaman) adalah antologi puisi Fitri Yani, penyair muda Lampung yang tengah naik daun, yang terbit melalui suntingan Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan Z.S. Continue reading “Pesta Makna di Dermaga Puisi”