Abang Becak yang Banting Setir Jadi Penulis

Membaca Sosok Joni Ariadinata

Eko Prasetyo

Salah satu sikap yang harus dimiliki seorang penulis adalah percaya diri. Ya, seorang penulis tidak boleh minder. Hal ini biasanya jamak dialami oleh penulis pemula yang berniat memublikasikan karyanya. Sikap minder itu lahir karena mereka harus bersaing dengan para penulis yang sudah punya nama. Inilah yang membuat penulis pemula terkadang belum siap menghadapinya. Ibarat kalah sebelum perang, hal inilah yang mesti dihindari oleh seorang penulis. Continue reading “Abang Becak yang Banting Setir Jadi Penulis”

Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra

Azwar Nazir *
sosbud.kompasiana.com

Dalam sebuah acara pertemuan sastra di Jogjakarta pada tahun 2005, seorang laki-laki kurus agak tinggi hadir dengan pakaian sederhana, kaos oblong dan celana jeans dengan topi hitam yang agak lusuh bertengger di atas kepalanya. Perhatian saya tertuju pada laki-laki sederhana itu, kumis yang seperti tidak terurus tidak mengesankan dia sebagai laki-laki garang tapi seorang yang merakyat yang luar biasa. Diam-diam saya mendengar bisik-bisik beberapa kawan sesama penulis, ‘Mas Joni dah datang tuh!’, mendengar namanya saya teringat sebuah tulisan di Majalah Annida edisi ekslusif tentang proses kreatif lelaki pengarang itu. Continue reading “Sisi Religiusitas Joni Ariadinata dalam Sastra”

Horison Sastra Indonesia

Joni Ariadinata *
infoanda.com/KoranTempo

Kalau Beni R. Budiman (Koran Tempo, 16/2) mengawali tulisannya dengan kalimat pembuka yang berisi pernyataan (pengakuan?) sebuah “kebingungan”, maka itu pantas baginya. Sebuah antologi besar semacam Horison Sastra Indonesia (HSI), memang tidak bisa disikapi secara serampangan, apalagi dengan nawaitu kecurigaan yang besar. Kapasitas Beni R. Budiman bisa diukur lewat tulisannya di harian ini, juga di Media Indonesia (10/2) yang kurang lebih sama. Continue reading “Horison Sastra Indonesia”

TEROR DALAM KEHIDUPAN BERINGAS

Maman S. Mahayana *

Gelombang cerpen Indonesia mutakhir sungguh seperti gerak roda kereta; gemertak-keras-memekakkan, sangat beragam, bising dan kadang kala terlalu nyaring. Selepas Seno Gumira Ajidarma, Taufik Ikram Jamil, Gus tf Sakai, Joni Ariadinata, Agus Noor, Hudan Hidayat, Herlino Soleman, dan sederet panjang nama-nama yang acapkali menggelisahkan kita di hari Minggu, kini Teguh Winarsho AS coba meluncurkan antologi cerpennya. Continue reading “TEROR DALAM KEHIDUPAN BERINGAS”