“Menembak tjelana dalam logam bukanlah djalan keluar” oleh Toef Jaeger

Alih Bahasa oleh Joss wibisono

Berikut terdjemahan resensi jang dimuat oleh harian sore NRC Handelsblad pada edisi 15 djuli 2016, halaman C6.

[Sebelum ini Schoonheid is een vloek (terdjemahan bahasa Belanda Tjantik itu luka), karja Eka Kurniawan sudah diresensi oleh harian pagi de Volkskrant dan harian pagi Trouw.] Continue reading ““Menembak tjelana dalam logam bukanlah djalan keluar” oleh Toef Jaeger”

Menerjemahkan atau Menjinakkan Kartini?

Joss Wibisono *
Majalah Tempo, 24 Apr 2017

Menerjemahkan sebuah naskah adalah mencari padanan kata, kalimat, atau ungkapan bahasa yang digunakan dalam naskah itu ke dalam bahasa lain. Padanan di sini mensyaratkan persamaan yang setaraf, yang berimbang atau berbobot sama. Lebih dari itu, penerjemahan juga mensyaratkan pemahaman nuansa sebuah tulisan; terjemahan yang berhasil akan berhasil pula menerjemahkan nuansa sebuah karya, apalagi kalau karya itu berbobot sastra. Continue reading “Menerjemahkan atau Menjinakkan Kartini?”

Ben Anderson dan Perkara Ejaan

Joss Wibisono *
Majalah Tempo, 28 Des 2015

Pada obituari Benedict Anderson, yang wafat di Indonesia, Tempo menyinggung berulang kali bahwa, dalam menulis, Indonesianis terkemuka ini selalu menggunakan Edjaan Suwandi (1947-1972). Oleh majalah ini, ejaan yang digunakan Ben Anderson tersebut dianggap ciri khas Ben, dan sayang tidak dikupas lebih jauh. Sesungguhnya Tempo edisi akhir tahun 2001 (halaman 82-83) telah memuat kolomnya yang ditulis dalam ejaan pra-Orba, berjudul “Beberapa Usul demi Pembebasan Bahasa Indonesia”. Bahkan bisa dikatakan, bagi Ben, EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) itu tidak ada, sampai saat-saat terakhir ia tetap menggunakan Edjaan Suwandi. Continue reading “Ben Anderson dan Perkara Ejaan”