Menulis untuk Keabadian

Kadir Ruslan *

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian” (Pramoedya Ananta Toer).

Tak terasa 30 September lagi, dan kali ini merupakan ulangan yang ke 47. Ingatan kita tentu bakal kembali tertuju pada apa yang terjadi 47 tahun silam. Tentang potret suram nan kelam perjalanan panjang sejarah negeri ini, tentang bagaimana darah anak negeri tumpah hanya untuk kemenangan sebuah idiologi: komunis. Continue reading “Menulis untuk Keabadian”

Pergulatan Profesor Koh Young Hun dengan Sastra Indonesia

Masuki M. Astro

Perkenalan Profesor Koh Young Hun dengan dunia sastra Indonesia melalui jalan panjang yang tidak pernah dipikirkan, apalagi dicita-citakan sebelumnya.

“Awal-awal saya kuliah, buku yang kami pelajari banyak istilah militer, seperti markas besar, mitraliur, atau mes perwira. Zaman saya kuliah tahun 1970-an, buku tidak sebanyak sekarang. Oleh karena itu, di Hankuk University menggunakan buku tentang ABRI, sekarang TNI,” kata Guru Besar Sastra Indonesia pada “Hankuk University of Foreign Studies” (HUFS) Korea Selatan ini. Continue reading “Pergulatan Profesor Koh Young Hun dengan Sastra Indonesia”