Aku, Suara, dan Maryam Kedua

Krisandi Dewi
http://www.facebook.com/people/Krisandi-Dewi/1177407133

Sekali lagi hujan turun kesekian kali hari ini.
Entahlah kenapa Tuhan tak sekaligus saja menurunkannya, sekalian mengguyur lapak-lapak tandus juga tanah bedeng yang biasanya sekali siram,apa-apa yang di atasnya pasti akan tenggelam,terendam.
Ah, tapi aku sudah bosan menelaah dan menerka kenapa Tuhan bertindak seperti ini, berkehendak layak itu.
Otakku sudah dungu, jadi tak mau lagi aku membuatnya semakin berkarat lalu sekarat gara-gara itu. Aku lebih melamunkan yang ada di tengah sawah saat ini. Continue reading “Aku, Suara, dan Maryam Kedua”

Darah Trah Dewata (Krisandi Dewi) Dan Perlawanan Cinta Perempuan Bali

Dino Umahuk*
http://perkosakata2009.wordpress.com/

Bukan maksud menyandingkan Novel ?Tarian Bumi? karya Oka Rusmini dengan Puisi ?Darah Trah Dewata? karya R. Mega Ayu Krisandi Dewi (Chaa) karena pada dasarnya keduanya berbeda. Yang satu novel yang satunya teks puisi. Yang satunya ditulis oleh sastrawan terkenal Oka Rusmini yang satu lagi ditulis oleh penyair pemula Chaa. Yang satu sudah sangat terkenal di ranah sastra yang satu sedang belajar menggeliat. Continue reading “Darah Trah Dewata (Krisandi Dewi) Dan Perlawanan Cinta Perempuan Bali”

Darah Trah Dewata

Krisandi Dewi
http://www.facebook.com/people/Krisandi-Dewi/1177407133

Sesemat kata muncrat di angkasa
Termaktub kesumat lupa tak tersebut
Ksatriaku, (yang hidup terlingkup megah nirwana)
Disinilah aku, (yang menelungkup dalam griya rumbia)
Mari cinta… kita tertawa
Menabuh genta tak bernyawa Continue reading “Darah Trah Dewata”

Lastri Di Abad Pertengahan

Krisandi Dewi
http://www.facebook.com/people/Krisandi-Dewi/1177407133

/I/
Tapi Lastri telah mati.
Badan rampingnya remuk diamuk tronton tadi pagi.
Sebelah tangannya yang nakal, entah kiri atau kanan,ditemukan tersangkut pada gerobak sapi, di roda belakang. Ususnya melilit di tiang listrik
Kaki-kaki jenjangnya yang baru bergelinjang di depan pelanggan semalam , terseret ke selokan.
Paha mulus yang tak absen diendus para anjing hidung belang, terbengkalai di depan kakus.jadi bangkai. Continue reading “Lastri Di Abad Pertengahan”