Gagasan Profetik Kuntowijoyo

Rizky
aank1985.wordpress.com

Gagasan profetik Kuntowijoyo berpijak pada tiga elemen utama: humanisasi (ta’muru bil ma’ruf), liberasi (tanhawna ‘anil munkar), dan transendensi (tu’minu billah). Konsep ini berakar dari Al-Qur’an Surah Ali Imran: 110: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah”. Konsepsi Kuntowijoyo diderivasikan dari tiga elemen yang Allah sebut sebagai prasyarat umat terbaik tersebut. Continue reading “Gagasan Profetik Kuntowijoyo”

KARAKTER DAN SASTRA PROFETIK

Dharma Setyawan *
hmp.pasca.ugm.ac.id

Umar bin Khattab berpesan “Ajarilah anak-anakmu sastra, karena sastra membuat anak yang pengecut menjadi pemberani”.

Konflik dan dinamika bangsa ini terus berproses pada jalan formalnya. Harapan besar manusia-manusia di dalam Negara ini tumbuh dan berkembang dalam proses-proses yang terus membaik. Sejarah pahit negeri ini yang awalnya penuh dengan semangat kepahlawanan telah tertutupi oleh sikap nir-akhlak generasi yang semakin mengalami erosi kebaikan. Continue reading “KARAKTER DAN SASTRA PROFETIK”

Sastra Profetik, Tradisi Melayu

Marhalim Zaini
riaupos.co

DUA tokoh sastra Indonesia yang agaknya identik dengan sebutan “sastra profetik” adalah Kuntowijoyo dan Abdul Hadi WM. Selain tampak dalam karya-karya mereka, sebuah tulisan Kunto berjudul “Maklumat Sastra Profetik (Kaidah, Etika, dan Struktur Sastra)” dimuat majalah Horison, 2005, bisa menguatkan itu. Sementara Abdul Hadi WM, dapat kita baca dalam “Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber” (Jurnal Kebudayaan Ulumul Quran, Agustus, 1998). Ini telaah kritis Abdul ihwal perkembangan sastra di tahun 1970-an dan 1980-an, terkait kesadaran penulis untuk menjadikan “tradisi” sebagai “sumber” proses kreatif penciptaan mereka, terutama tentang semangat untuk kembali ke “puitika Timur.” Continue reading “Sastra Profetik, Tradisi Melayu”

In Memoriam

Goenawan Mohamad
majalah.tempointeraktif.com

Begitu banyak kematian, tapi pada kematian seseorang yang berarti, ada sesuatu yang lain dalam kehilangan itu: sebuah penemuan kembali.

Novelis Kuntowijoyo dan pelukis Semsar Siahaan meninggal pekan lalu, dengan sebab yang berbeda, di tempat yang berbeda. Populasi dunia kesenian Indonesia yang langka penghuni ini berkurang dengan tiba-tiba. Tapi kemudian kita tahu, kita ingat: mereka berkarya, dan tiap karya kreatif menolak ikut pertentangan hidup dengan mati. Continue reading “In Memoriam”