Pamuk Sang Politikus

Kurniawan
http://www.ruangbaca.com/

Dia berkutat di meja tulis selama 10 jam sehari untuk mengarang.
Pada akhirnya Orhan Pamuk adalah politikus, atau “sarjana politis” sebagaimana diistilahkan Margaret Atwood.

Pada mulanya lelaki kelahiran Istanbul, Turki, pada 7 Juni 1952 itu dipaksa belajar arsitektur di Universitas Teknik Istanbul karena keluarganya ingin dia menjadi insinyur atau arsitek. Continue reading “Pamuk Sang Politikus”

Bangkitnya Abdullah Harahap dari ‘Kubur’

Kurniawan
majalah.tempointeraktif.com

KEDAI buku beratap seng itu terletak di bagian dalam pasar buku Pasar Senen, Jakarta. Tanpa papan nama, seperti kebanyakan kedai buku di sana.

Sebuah meja besar memenuhi kedai itu. Di atasnya bertumpuk buku teka-teki silang yang biasa dijajakan pengasong di terminal. Beberapa novel remaja murahan tertata di salah satu rak. Di dinding lain ada beberapa komik tipis Petruk-Gareng dan novel horor Mira Karmila yang sudah berdebu. Continue reading “Bangkitnya Abdullah Harahap dari ‘Kubur’”

Mengurai Teror Mental Putu Wijaya

Kurniawan, Ahmad Rafiq
majalah.tempointeraktif.com

PENELITI teater dari dalam dan luar negeri yang hadir dalam Mimbar Teater Indonesia di Surakarta pekan lalu umumnya sependapat bahwa drama Putu Wijaya khas dan orisinal. Menurut Michael Bodden, profesor di University of Victoria, British Columbia, Kanada, belum ada penulis naskah lain yang memiliki gaya sama atau sekadar mirip dengannya. Continue reading “Mengurai Teror Mental Putu Wijaya”

Sebuah Mimbar untuk Putu Wijaya

Kurniawan, Ahmad Rafiq, Anwar Siswadi
majalah.tempointeraktif.com

MATA kecilnya terpejam di balik kacamata silindris empat. Bocah perempuan berambut ikal itu sedang berkonsentrasi penuh. Sesaat kemudian, kata-kata meluncur lancar dari bibir mungilnya. “Bangun! Bangun, anakku! Sudah waktunya kau menatap dunia. Lihatlah dan arungi kehidupan. Menjalani takdirmu sebagai ayam. Keluarlah!” teriaknya. Continue reading “Sebuah Mimbar untuk Putu Wijaya”

Kita Semua Terlahir Gila, Beckett

Kurniawan
http://www.ruangbaca.com/

?Tak ada yang lebih nyata daripada ketiadaan.?

Dunia sedang merayakan peringatan seabad kelahiran sastrawan besar Irlandia, Samuel Beckett. Bank Sentral Irlandia memperingatinya dengan mengeluarkan edisi terbatas koin emas senilai 20 euro (sekitar Rp 220 ribu) bergambar wajah Beckett. Irlandia juga mempersembahkan sebuah jembatan dengan namanya. Continue reading “Kita Semua Terlahir Gila, Beckett”