Suatu Siang di Seminari

Seno Joko Suyono, Anton Septian, Lucia Idayani
TEMPO Edisi 29/XXXVI/10 – 16 Sep 2007

”… Aku duduk di pinggir ranjang, berpura-pura membaca majalah, padahal sebenarnya aku mengamati ibu sewaktu ia menutupi payudaranya yang melorot dengan kutang lepek warna kulit yang dibelinya di pasar buah. Celana dalamnya yang telah menguning dimakan usia menampakkan sebaris karet elastis di bagian pinggangnya yang kendor….” Continue reading “Suatu Siang di Seminari”

Persahabatan di Kaki Borobudur

Seno Joko Suyono, Lucia Idayani
majalah.tempointeraktif.com

STUPA puncak itu tampak begitu terang. Dari jarak sekitar satu kilometer, stupa itu seolah berbinar sendirian di ketinggian.

Malam itu, disambut hembusan udara dingin, para penulis masuk kawasan Borobudur melalui sisi tenggara candi, lewat pintu masuk halaman Hotel Manohara. Panggung terbuka Aksobya, yang letaknya di pelataran sisi timur candi, menunggu mereka. Panggung itu hanya berjarak 50 meter dari candi. Bila berdiri di situ terasa kekokohan candi. Continue reading “Persahabatan di Kaki Borobudur”

Jejak Boekhandel Tan Khoen Swie

Seno Joko Suyono, Dwijo Maksum, Imron Rosyid,
Lucia Idayani, Istiqomatul Hayati, Nurdin Kalim
majalah.tempointeraktif.com

Di atas pintu depan toko itu hanya terlihat papan kayu biru kusam bertuliskan “SURABAYA”. Toko di Jalan Dhoho, Kediri, itu menjual bahan makanan seperti abon, dendeng, ke-rupuk. Pada era 30-an, toko itu bernama “SOE-RABAIA”, terkenal sebagai pusat penjualan ban Dunlop dan onderdil mobil. Continue reading “Jejak Boekhandel Tan Khoen Swie”

Naskah-Naskah yang Terlupakan

Seno Joko Suyono, Lucia Idayani, Heru Nugroho
http://majalah.tempointeraktif.com/

Begitu melewati hutan-hutan cemara yang sunyi, masuklah kami ke wilayah Desa Kendakan, desa di lereng Merbabu yang juga seperti desa-desa di pegunungan lain. Jalanan batu rapi dengan rumput di sela-selanya sehingga tidak licin bila hujan. Udara segar, dan sesekali tercium bau asap lisong.

Sore itu, kami mencari seorang dalang bernama Sumitro. Bertanya-tanya dari kaki sampai lereng gunung, hampir semua warga kenal dan dapat menunjukkan rumahnya. Rumah yang amat sederhana. Kaca jendelanya buram, penuh tempelan stiker para pendaki gunung. Continue reading “Naskah-Naskah yang Terlupakan”