GAGASAN DAN TANGGAPAN

Malkan Junaidi

Saat Ahmad Yulden Erwin merilis daftar penyair tempo hari, saya berpikir itu akan berkelanjutan jadi semacam Tonggak-nya Linus Suryadi AG, yakni merupakan kanon pribadi, yang akan diterima publik setara buku-buku yang mengekspresikan pandangan personal. Saya kecele, karena segera muncul wacana pembentukan tim penyusun untuk menyempurnakan gagasan kanonisasi itu, sehingga—teringat bagaimana ketika buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh beberapa tahun lalu terbit dan menimbulkan konflik berikut ekses-eksesnya—saya membatin, “Wah, sebentar lagi kasak-kusuk dan kegaduhan pastilah terjadi.” Continue reading “GAGASAN DAN TANGGAPAN”

DARI BOB DYLAN KE DENNY JA

Malkan Junaidi

“Setiap yang bisa kunyanyikan kusebut lagu. Setiap yang tak dapat kunyanyikan kusebut puisi. Setiap yang tak bisa kunyanyikan atau yang terlalu panjang untuk menjadi puisi kusebut novel,” kata Bob Dylan suatu waktu, dan kemudian Svenska Akademien memberinya Nobel Sastra dengan alasan Dylan “telah menciptakan ekspresi puitis yang baru dalam tradisi lagu Amerika yang agung” dan ia menerimanya. Continue reading “DARI BOB DYLAN KE DENNY JA”

KANON YULDEN

Malkan Junaidi

Memang, sering saya tak seia dengan sikap dan pendapat Ahmad Yulden Erwin (AYE). Beberapa kali saya mengkritiknya sebagaimana dia pun beberapa kali mengkritik saya. Namun tegas memisahkan penilaian antara pribadi dan karya adalah sikap yang terus saya latih, sedemikian hingga apapun pandangan dan tindakan pribadi AYE, itu tak memengaruhi peresapan saya atas puisi-puisinya. Bahkan, percaya atau tidak, sementara dia memblokir saya, saya terus membaca buku-bukunya. Salah satunya bahkan sempat ketumpahan kopi di tempat kerja. Continue reading “KANON YULDEN”