CERDAS BERBAHASA, TAFSIR TAK PERNAH SERAGAM

Maman S Mahayana
Kompas, 13 Mei 2020

Bahasa apa pun di dunia ini, ideologis! Ia menyimpan dan menyampaikan ide para pemakainya. Ide itu digayuti latar belakang kehidupan tradisi sosio-budaya, agama, politik, pendidikan, dan lingkungan alam yang melahirkan dan membesarkannya. Ia lalu melekat dalam pikiran penutur. Bergerak setiap otak memerintahkan dan hati ikut mempertimbangkan. Jadi, dalam setiap ujaran, tersimpan ideologi sang penutur. Itulah yang membedakan bahasa manusia dengan bahasa hewan. Ada logika. Ada juga konvensi norma dan etika yang harus dipenuhi ketika seseorang berinteraksi menjalankan komunikasi sosial. Continue reading “CERDAS BERBAHASA, TAFSIR TAK PERNAH SERAGAM”

AKAR SOSIOLOGIS MUDIK LEBARAN

Maman S Mahayana *

Catatan Pengantar: Esai ini pernah dimuat Harian Kompas, 2 September 2011 (dimuat juga dalam buku Bermain Esai, Jakarta: Tarebooks, 2018, hlm 135—138). Ketika itu manajemen PT Kereta Api Indonesia (KAI) masih semrawut. Rel ganda Jakarta-Surabaya belum dibangun. Begitu juga jalan tol di Pulau Jawa, baru sampai Cirebon. Jadi, problem mudik dalam tulisan ini sudah kurang relevan lagi. Meskipun demikian, konsep mudik di Indonesia berakar pada problem sosiologis hubungan kota—desa, dan tidak berkaitan dengan tradisi, sistem kepercayaan, dan mitos, sebagaimana yang dilakukan masyarakat China dan Korea. Continue reading “AKAR SOSIOLOGIS MUDIK LEBARAN”

SEPASANG LILIN DI RUMAH MALAIKAT

Maman S. Mahayana

Dibandingkan teman-teman dari Pekanbaru, Tanjungpinang, Batam, dan Padang; juga teman-teman dari Malaysia dan Brunei Darussalam, saya terlambat mengenalnya: novelis Singapura yang prolifik dan humanis. Namanya Rohani Din. Sekitar 20-an novel sudah dihasilkannya. Novel-novelnya tebal. Satu di antaranya, berjudul Diari Bonda (Kuala Lumpur: Creative Enterprise Sdn. Bhd., 2004, 738 halaman) yang dalam setahun penerbitannya telah mengalami cetak ulang. Continue reading “SEPASANG LILIN DI RUMAH MALAIKAT”

AKAR TRADISI SASTRA INDONESIA

Maman S. Mahayana

Belanda sebagai negara kecil di Eropa sebenarnya cukup punya reputasi yang baik sebagai negara kolonial yang berhasil merambahkan kekuasaannya sampai ke Afrika. Meski begitu, Belanda termasuk salah satu negara kolonial yang gagal menanamkan jejak peradabannya di negara bekas koloninya dibandingkan negara-negara Eropa lainnya, seperti Inggris, Prancis, Portugis atau Spanyol. Paling tidak, bahasa dan agama yang ditinggalkan negara-negara kolonialis itu menciptakan semacam ikatan sejarah yang menghubungkan negara-negara itu dengan bekas wilayah koloninya. Belanda tidak! Agama tidak, bahasa pun tak! Continue reading “AKAR TRADISI SASTRA INDONESIA”