Seorang Peranakan yang Suka Berbicara dan Berimajinasi Sendirian

Wawancara dengan Mardi Luhung
Han Gagas
http://pawonsastra.blogspot.com/

Saya pertama kali mengenal nama Mardi Luhung -seingat saya- di lembar puisi di koran nasional. Seingat saya dua kali muncul. Nama itu lalu mengambang di kepala saya. Hingga suatu ketika saya menemukan nama itu lagi di lembar cerpen koran nasional yang lain. Karena cerpen adalah bidang penulisan yang saya geluti, saya membaca cerpennya itu, dan saya sedikit bengong akan imajinasinya yang ndladrah-ndladrah, mengalir dan mengocor terus. Saya mulai mengingat nama Mardi Luhung di benak saya. Continue reading “Seorang Peranakan yang Suka Berbicara dan Berimajinasi Sendirian”

Ikan yang Menyembul dari Mata

Mardi Luhung
Koran Tempo, 11 Juli 2010

I

AKU dilahirkan di bulan Maret. Sekian puluh tahun yang lalu. Tepat ketika negeriku mengalami hari-hari berdarah. Hari-hari di mana kawan dan lawan cuma saling tuding: ?Ini kawan, itu lawan, dia aman, kau tidak!? Dan malamnya, yang dituding sebagai lawan pun dijemput ramai-ramai. Diciduk, istilah pastinya. Lalu paginya, di pantai akan berjajar sekian tubuh yang tanpa kepala. Sekian tubuh yang kata para penciduk: ?Milik orang yang tak pernah berdoa. Dan layak dihabisin.? Continue reading “Ikan yang Menyembul dari Mata”

Puisi-Puisi Mardi Luhung

Kucing Beling

Mesin jahit di atas meja. Meja di atas usungan. Usungan di atas selusin pundak. Dan di mesin jahit itu dia menjahit tubuhku yang telah digunting dan dimal. Setelah dibentang seperti 7 meter kafan. Dan ditaburi minyak serimpi. Minyak si penari yang telah membuat usia menyingkap kerahasiaannya. Membiarkan risik tertabur pada yang tak pernah mengatupkan mulutnya: ?Aku ingin menghadap tanpa riasan apa pun. Aku adalah teja senja yang tak terduga!? Continue reading “Puisi-Puisi Mardi Luhung”