Sajak-Sajak Mardi Luhung

cetak.kompas.com

Habsiyah

Kau adalah bidadari yang ditiup dari bahan tersisa. Karenanya tak begitu istimewa. Dan terpaksa diletakkan di gerbang pasar daripada di taman sorga. Di gerbang pasar tugasmu meluruskan langkah para ibu. Langkah yang bingung ketika mesti memutar uang belanja yang kerap minus. Yang hanya cukup untuk menipu kenyang. Dan sedikit membeli racun serangga. Serta secarik nota yang akan ditulis: “Maafkan, jika aku akan meracun anak- anakku, juga anak-anakmu…” Continue reading “Sajak-Sajak Mardi Luhung”

Sajak-Sajak Mardi Luhung

cetak.kompas.com

Seperti Adam yang Bersepeda

Seperti Adam yang bersepeda, aku juga bersepeda di pantai. Sepeda besar, ban besar dengan tuter yang berat dan gembung. Yang jika dipukul bergaung dan menembusi setiap yang telah dan akan dilalui. Membukai arah-arah yang baru. Seperti sepeda Adam, sepedaku juga berwarna ungu. Dan setiap terkayuh, jejak bannya menggoresi pasir. Membentuk selang-seling yang dalam. Yang kelak akan dibaca sebagai awal huruf. Continue reading “Sajak-Sajak Mardi Luhung”

Sajak-Sajak Mardi Luhung

korantempo.com

Hantu Paus

Aku percaya pada hantu paus. Hantu dari paus yang dulu terdampar di pantai sana. Tubuhnya menampak dan menghilang. Mengambang dan melayang di gang-gang. Dan matanya yang kecil terlihat garang sekaligus lembut: “Seperti sedang mencari jalan pulang.”

Pulang ke mana hantu paus? Sirip dan ekornya tak menjawab. Dan gang-gang yang sempit pun terus dilalui. Dan tubuhnya yang besar itu bisa melonjong dan menyempit. Atau malah tembus pandang. Tak ada yang dapat menahan dan memaksanya. Continue reading “Sajak-Sajak Mardi Luhung”