Sajak-Sajak Mardi Luhung

korantempo.com

LORONG

Aku hadir ketika minyak tanah digelapkan dari neraca warung. Orang-orang dipaksa menggendong tabung gas. Dan si tuan mengawini perempuan dari gurun. Dengan mahar: bintang munting, kuburan para jagal dan sebuah mesin pengintai yang kerap memasuki kamar-kamar yang ada. Yang saling sengkarut. Mesin pengintai yang akan mengajari aku agar berkilah semacam ini: “Karena harapan tak jelas, aku mau jadi dukun saja. Jadi dukun yang punya mata menerawang,” Continue reading “Sajak-Sajak Mardi Luhung”

PERAHUKU

Mardi Luhung *
Jurnal Nasional 14 Sep 2008

Umi dan Abi pergi ke taman kampung. Umi berkebaya sedap. Abi berbaju koko. Kata keduanya: “Kami ingin naik sepur kelinci yang panjang!” terus tersenyum. Senyum yang lepas. Dan membuntut di belakang sepur kelinci yang panjang itu. Seperti buntut layang-layang yang tertempa oleh angin. Meriah dan menyala. Dengan warna yang terang. Warna yang ketika masuk ke dalam mimpiku, akan mewarnai relungnya. Sampai membuat mimpiku merajuk: “Tolong, jangan, jangan bangunkan aku dari ini semua!” Dan senyum yang mengingatkan aku pada yang bertumbuhan di kelebatan bulumu. Yang kerap kau warnai. Yang sesekali menggumpal. Dan sesekali bergerai. Meluncurkan perahuku yang aku anyam dari puisi. Continue reading “PERAHUKU”

Sajak-sajak Mardiluhung Perbenturan Budaya Pesisiran dan Pedalaman

Tjahjono Widijanto
11 Mei 2008, Jurnal Nasional

Sulit membayangkan seorang penyair dan sajak berangkat dan hadir dari sebuah kekosongan, nihil ex nihilo: tidak ada sesuatu yang lahir atau berasal dari ketiadaan. Sajak lahir dari persentuhan indrawi atau rohani, antara penyair dan semesta seperti gesekan ranting dengan ranting di musim kering yang menghasilkan api, karena itu sajak —dalam publik yang paling terbatas sekalipun— akan senatiasa mendiskusikan, mendialogkan, dan memperbincangkan “sesuatu”. Continue reading “Sajak-sajak Mardiluhung Perbenturan Budaya Pesisiran dan Pedalaman”

Aroma Ikan, Amanat dan Komik

Minggu, 20 Apr 2008 Jurnal Nasional

Arie MP Tamba

Penyair Mardi Luhung mencul dengan puisi-puisi bernuansa khas: bau sesetan ikan dan kota tepi laut, Gersik sekitarnya, khususnya pesisir Lumpur Gersik. Mardi Luhung memang berkreasi dengan menunjukkan keakrabannya yang kental atas lingkungan kelahiran dan tempatnya bertumbuh, serta menjadi wilayah kerjanya sampai kini. Berikut obrolannya dengan Jurnal Nasional. Continue reading “Aroma Ikan, Amanat dan Komik”