Para Penumpang Gelap

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 12 Jan 2014

SEBUTAN “penumpang gelap” sudah tidak lagi hanya milik dunia transportasi, tapi sudah menjadi “milik” banyak dunia. Dunia, yang dalam konteks sebuah ruang sosial—yang oleh teori Bourdieu—kerap disebut field (arena). Arena, tempat berbagai dialektika proses relasi sosial terjadi, yang terstruktur, untuk kemudian membentuk apa yang disebut habitus. Dunia politik, dunia ekonomi, dunia seni, dunia sastra, dunia puisi, tentu termasuk di dalamnya. Maka, sebutan “penumpang gelap” pun bisa cocok dipakai sebagai frasa simbolik yang mencerminkan salah satu gejala dialektika sosial yang terjadi. Continue reading “Para Penumpang Gelap”

Puisi Esai: Tak Percaya Kekuatan Kata

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 15 Sep 2013

Adalah Denny JA, yang lebih kurang setahun silam, menggaungkan sebutan “puisi esai” untuk bukunya berjudul Atas Nama Cinta. Belakangan kian tenar namanya, ketika cogan “Indonesia Tanpa Diskriminasi” meramaikan iklan di televisi. Satu lagi, yang seolah bersebati dengan nama Denny JA adalah Lingkaran Survei Indonesia (LSI), sebab ia Direktur Eksekutifnya. Continue reading “Puisi Esai: Tak Percaya Kekuatan Kata”

Puisi, Bencana, Bisu

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 16 Feb 2014

“….di sinilah, saat syahadat ia gumamkan serupa sesayat kilat,
Di hatinya tumbuh burung-burung putih, seperti malaikat,
Menyeretnya serupa air bah, ke puncak seluruh gunung…”

“….makna kelahiran, katamu/ seperti benih-benih puisi/ yang panas dalam rahim
kata-kata/ dan yang gugur itu,/ asap debu dari ampas/ mimpi-mimpi mereka…”
Continue reading “Puisi, Bencana, Bisu”

Antipuisi

Marhalim Zaini *

MENYEBUT istilah “antipuisi,” maka perbincangannya akan berada “di antara” (atau tarik-menarik antara) makna ideologis dan sekaligus non-ideologis. Antipuisi—sebagaimana juga ingatan kita tentang sebutan antisosial, antipolitik, antiteater, dll—segera akan merujuk kepada, dan tak terpisahkan dari, sejarah pemikiran sosial kontemporer, khususnya wacana seni. Nama-nama macam Deleuze, Guattari, Lyotard, dan Baudrillard, pun sebelumnya ada Nietzsche, berada dalam lokus ini. Continue reading “Antipuisi”

Kato jadi Daging Tulang

Marhalim Zaini *

Sejak lama, banyak orang risau—termasuk para penyairnya—bahwa puisi susah sekali “diterima” oleh publik luas. Nasib puisi, “dianggap” kerap marjinal, secara popularitas, bahkan jika dibandingkan dengan sesama genre sastra sekalipun; cerpen atau novel misalnya. Orang, terkadang, berharap puisi dapat diterima seperti diterimanya mi instan oleh semua lidah lintas usia. Espektasi terlampau besar semacam itu, dengan cara pandang (teramat) umum, kadang, membuat kita kian hari kian tak percaya lagi pada kekuatan kata-kata dalam puisi. Puisi-puisi yang terlahir kemudian pun, selalu (dan berupaya keras) untuk “didekat-dekatkan” dengan publik. Seolah, berupaya untuk membuat puisi tak berjarak dengan publik. Continue reading “Kato jadi Daging Tulang”