Wates dan Sastra “Gado-Gado”

Marwanto
http://pawonsastra.blogspot.com/

Wates, kota kecil nan sepi di wilayah Kabupaten Kulonprogo (sekitar 30 kilometer sebelah barat kota Yogyakarta) itu, mungkin tak membayangkan bakal didatangi sejumlah sastrawan kondang negeri ini. Namun, demikianlah yang terjadi pada Minggu, 13/01/08. Dua komunitas sastra di kabupaten tersebut, yakni Lumbung Aksara (LA) dan Sanggar Seni-Sastra Kulonprogo (Sangsisaku) menggelar helat: Temu Sastra Tiga Kota (Purworejo, Kulonprogo, Yogyakarta). Continue reading “Wates dan Sastra “Gado-Gado””

Cerpen, Modernitas dan Kematian

Marwanto
http://www.kr.co.id/

BAGAIMANA masyarakat modern-kota memandang kehadiran sebuah cerpen? Sudah barang tentu jawabannya beragam. Sebuah cerpen di suratkabar mungkin dipandang sebagai hiburan semata. Pemuatannya di sebuah koran harian yang pas hari Minggu, sangat cocok untuk mengisi waktu santai. Cerpen di sini lalu hanya semacam intermezo. Selingan dari kebisingan berita yang ?itu-itu saja?: kekerasan, kriminal, kesibukan di lantai bursa serta acara seremoni politisi. Continue reading “Cerpen, Modernitas dan Kematian”

Menanti Cerpen Indonesia versi Yogya

Marwanto
kr.co.id

SEPERTI dimuat rubrik ini (MP No 16 th 58 minggu III Juli 2005), beberapa waktu lalu sejumlah kreator dan pengamat sastra di Yogyakarta di antaranya: Jony Ariadinata, Saut Situmorang, Raudal Tanjung Banua, Gunawan Maryanto dan Bambang Agung kembali melakukan kegiatan penilaian terhadap cerpen-cerpen yang pernah dimuat harian Kompas selama 2004. Kegiatan yang bertajuk Cerpen Pilihan Kompas 2005 versi Yogyakarta itu sebenarnya untuk yang kedua kali, setelah sebelumnya kegiatan serupa dilakukan pada tahun 2004. Continue reading “Menanti Cerpen Indonesia versi Yogya”

Coba Menghindari ‘Dosa Generasi’ *

Karena tidak menghargai karya sastra

Marwanto
http://www.kr.co.id/

SALAH SATU persoalan ‘klasik’ yang dihadapi dunia kesusasteraan kita adalah tidak dihargainya karya sastra. Dalam dialog antara sastrawan (yang dimotori Taufiq Ismail dan kawan-kawan) dengan pelajar maupun mahasiswa, memperlihatkan adanya keprihatinan mendalam pada eksistensi sastra dalam masyarakat. Di samping itu, dari hasil dialog ke berbagai sekolah dan universitas itu, menunjukkan pelajaran mengarang menjadi pelajaran paling terlantar di institusi pendidikan Indonesia. Continue reading “Coba Menghindari ‘Dosa Generasi’ *”