INTEGRASI KE-MADURA-AN DALAM PUISI DAN DIRI

Matroni Musèrang *

Dalam tulisan ini saya akan mencoba berkenalan dengan penyair Madura yang tidak menetap di tanah kelahirannya, namun rasa Maduranya masih kental dan manis. Di komunitas ‘Kutub’ Pondok Pesantren Hasyim Asy’arie Yogyakarta, saya berguru kepada tiga penyair Pulau Garam “Madura,” Mahwi Air Tawar, Salman Rusydie Anwar, dan Ahmad Muchlis Amrin, di samping juga kepada pengasuh K.H. Zainal Arifin Thaha (alm) dan Kuswaidi Syafi’ie, Evi Idawati, Raudal Tanjung Banua, Joni Ariadinata, tetapi tulisan ini hanya focus pada tiga penyair yang sama-sama memiliki ciri khas dalam menulis puisi. Continue reading “INTEGRASI KE-MADURA-AN DALAM PUISI DAN DIRI”

Bahasa Peristiwa Sebagai Sastra Perlawanan

Matroni Musèrang *

Sastra melawan pernah digayang Wiji Tukul dengan hanya ada satu kata Lawan! Chairil Anwar, Rendra dengan puisi Famlet dalam puisi. Putu Wijaya dengan Novel dan dramanya, dan sekarang dimotori oleh Sosiawan Leak dengan Sastra Menolak Korupsi. Namun ada waktu senggang yang menjadikan sastra mengalami kelesuan, salah satu alasan mengapa kelesuan itu terjadi yaitu, karena tidak ada gerakan progresivitas, salah satu lainnya adalah tidak adanya keinginan mencoba mencari ide-ide segar, ide-ide baru untuk dituliskan, sehingga yang terjadi “daur ulang” dari puisi-puisi yang terbit di koran dan buku. Continue reading “Bahasa Peristiwa Sebagai Sastra Perlawanan”

Proses Kreatif dan Gerakan Sastra Kampung

Matroni Musèrang *
kawaca.com/2017/10/

Bagi saya sastra, khususnya puisi sebuah perjalanan mistik. Mistik di sini harus dimaknai secara luas yaitu mistik yang membuka diri (inklusivitas) terhadap penyingkapan dasar-dasar kenyataan dan kehidupan sehari-hari. Artinya sastra mistik di sini bukan sastrawan yang harus menyendiri, tertutup diri (ekslusif), akan tetapi membuka diri terhadap berbagai fenomena kehidupan (kemanusiaan), dan keilmuan filsafat, budaya, seni, politik, dan agama, lebih-lebih sastra agar kita tidak “iri” terhadap seseorang dan institusi apa pun. Continue reading “Proses Kreatif dan Gerakan Sastra Kampung”