Dina, Emily, Puisi Sepi

Misbahus Surur *
http://www.lampungpost.com/

Seorang perempuan belia kelahiran Lampung telah membuktikan diri sebagai penyair matang, setidaknya dari terbitnya dua buah buku puisi penting: Biografi Kehilangan (2006) dan Hati yang Patah Berjalan(2009).

MEMBACA puisi-puisi penyair ini, dengan perjalanan ingatan dan mungkin juga masa lampaunya yang muram, menyiratkan betapa setia dan tekun ia menakik rasa, untuk menukik ke larat kata. Atau bisa sebaliknya. Continue reading “Dina, Emily, Puisi Sepi”

Teks, Celah dan Kita

Misbahus Surur
Lampung Post, 14 Mei 2011

Sebagai jendela pengetahuan yang menumpu pada kemampuan daya (me)resepsi, habitus “membaca” lazim punya produktivitas ganda. Selain akumulasi dalam bentuk ujaran atau lisan (speaking), tabiat ini tentu saja dapat memantulkan resonansi dalam tulisan (writing). Dan, buku –salah satunya-, sebagai jantung di mana degup teks memompa darahnya, guna mendapatkan vitalitas. Juga ruang, di mana mekanisme “membaca” bekerja. Adalah tanda mata (reminder) bagi sesiapa yang tak letih menajamkan indra dan pikirannya. Continue reading “Teks, Celah dan Kita”

Kisah Nasionalisasi Bahasa Melayu

Misbahus Surur
Lampung Post, 12 Mar 2011

Perjalanan bahasa Melayu menjadi bahasa nasional, bukanlah perjalanan yang gampang. Kendati ihwal transformasi bahasa, dari bahasa daerah menuju bahasa kebangsaan, jamaknya menjadi hal yang lumrah. Untuk kasus bahasa Melayu, pilihan kepadanya bukan berdasarkan suatu yang singkat, melainkan melewati proses dan pertimbangan yang cukup panjang dan melelahkan. Beberapa pertimbangan itu seperti; tersebarnya ”ragam” bahasa Melayu ke seantero Nusantara, jauh sebelum bahasa ini dikonversi menjadi bahasa nasional (1928). Aspek lainnya adalah perilaku kebahasaan para nasionalis (elite politik) yang kala itu juga diam-diam mengarah ke sana. Continue reading “Kisah Nasionalisasi Bahasa Melayu”

Puisi dan Kabar dari Lautan

Misbahus Surur *
http://www.lampungpost.com/

LAUT adalah metafora sekaligus sebuah “dunia”. Sebagai sebuah dunia, laut menjadi loka, atau setidaknya pintu gerbang, bagi sang tualang melabuhkan diri ke negeri-negeri yang tak diketahui. Guna menambatkan harapan-harapan baru yang (tak) terkonsep sebelumnya. Tempat si pengembara melupakan kegamangan dan kejumudan-kejumudan di daerah asal. Continue reading “Puisi dan Kabar dari Lautan”

Sajak-Sajak Misbahus Surur

http://www.lampungpost.com/
Asinmu Lautan

kubawakan segenggam asin saat kau pinta putih
sebab garam tak pernah beku dalam matamu
tapi kau terlalu laut cintaku,
memilih menjajar batu karang di pinggir samudera itu
berharap kokoh dan sekuat ombak yang menerjangmu kelak
betapa riang hamparan pasir di laut sini, tak menampik
gelombang sehempasan pun riak sepercikan
bentang hari berucap lirih pada sampan: Continue reading “Sajak-Sajak Misbahus Surur”