Sajak-Sajak Nirwan Dewanto

cetak.kompas.com

Babi Merah Jambu
untuk Agus Suwage

Barangkali buluku sepantas sutera, tapi sungguh aku enggan bercermin. Sebab pantulanku akan terlihat suci, dan aku tak suka bersaing dengan mereka yang beriman.

Bangun sebelum fajar itu, aku masuk ke dalam sisa tidurmu, menyaru sebagai penghibur berpupur putih lesih dan bermoncong merah jambu dan berhujah betapa kau terlihat bahagia di antara para musuhmu. Continue reading “Sajak-Sajak Nirwan Dewanto”

Jalan Setapak Berduri

Nirwan Dewanto
majalah.tempointeraktif.com

LUKISAN pemandangan gaya Hindia Molek telah memukau saya di masa kecil, tapi perlahan-lahan saya tahu bahwa keindahan semacam itu hanya menjadikan saya seorang penggirang palsu, pemuja buta negeri sendiri. Perihal sastra (berbahasa) Indonesia sepanjang 2003, saya tak mampu membentangkan lukisan jelita. Menelusuri lanskap penulisan itu niscayalah mengungkai royan dan cedera pada diri sendiri. Kenapa gerangan kita masih mencipta bila khazanah dunia adalah lautan tak berhingga karya gemilang? Untuk sekadar mempertebal polusi-ataukah menambahkan kecemerlangan pada wajah dunia? Continue reading “Jalan Setapak Berduri”

Sajak-Sajak Nirwan Dewanto *

cetak.kompas.com

Roti
untuk Gregorius Sidharta Soegijo

Kami duduk bertiga belas: meja ini sangat panjang, panggung ini terlalu lapang. Aku dan ia ibarat dua bintang jauh-berjauhan, dua kerdip yang berupaya bertukar getar. Ia berada di ujung sana, seakan di puncak semenanjung: wajahnya tertutup gelap, gelap yang hampir sempurna. Tapi ia seperti tumbuh mendekat ke setiap kami. Sungguh, kami takut jika wajah kami menulari wajahnya, tapi kami bahagia mencium bau tubuhnya di antara rasa lapar kami. Continue reading “Sajak-Sajak Nirwan Dewanto *”

Adakah ‘Bangsa’ dalam Sastra? *

Nirwan Dewanto **
korantempo.com

Karya-karya sastra Indonesia yang terbaik tak menggambarkan tokoh-tokoh lurus, utuh, positif, yang dapat menjadi teladan masyarakat luas.

Bahkan dalam prosa realis pun, termasuk karya yang menjadi santapan politik masyarakat luas, keteladanan itu hampir absen, terutama bila kita menggunakan kaidah moral dan agama. Ada juga novel yang menubuhkan cita-cita sosial ke dalam tokoh yang positif, heroik, namun novel demikian biasanya novel khotbah yang menjemukan. Continue reading “Adakah ‘Bangsa’ dalam Sastra? *”

Pinurbo dan Dinar

Nirwan Dewanto *
majalah.tempointeraktif.com

SETIAP akhir tahun saya merasa lara dan terkutuk sebab saya tahu tak banyak karya sastra dalam bahasa nasional kita dalam setahun itu yang layak dikenang. Sebagian besar hanya akan tinggal sebagai bahan dokumentasi. Juga sepanjang 2002. Namun, takut menjadi anak durhaka di kampung halaman sendiri, saya berusaha toleran terhadap mutu sastra, lalu menghibur diri: lihat, bakat baru terus bermunculan. Ajaib, masih ada yang bisa meloloskan diri dari mediokritas yang kian merajalela dalam masyarakat saya. Bagaimana mungkin negeri yang tenggelam dalam kelisanan ini masih bisa menghasilkan penulis unggul? Continue reading “Pinurbo dan Dinar”