Kecerobohan Sang Kritikus atau Plagiarisme Sang Penyair Nobel?

Malkan Junaidi

Dalam bukunya yang berjudul Octavio Paz, Puisi dan Esai Terpilih, diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya, pada sub-kumpulan Puisi-Puisi (1995-1996), Arif Bagus Prasetyo mencantumkan sebuah puisi yang berjudul Nyanyian Diri:

Mungkin aku bisa berkelok untuk hidup bersama satwa,
Mereka begitu lembut lagi penuh percaya diri,
Aku berdiri memandang mereka begitu lama. Continue reading “Kecerobohan Sang Kritikus atau Plagiarisme Sang Penyair Nobel?”

Topeng Bangsa Meksiko

Octavio Paz
diterjemahkan ke bahasa Inggris: Lysander Kemp
dialihbahasakan ke bahasa Indonesia: Ferdiansyah Thajib
http://www.facebook.com/ca.fes1

Dan bagi saya semua sikap ini, meskipun datang dari sumber yang berbeda, membuktikan hakikat “tertutupnya” reaksi kami terhadap dunia di sekeliling kami atau sesama kami. Namun mekanisme pertahanan dan pelestarian diri kami tidaklah cukup. Dan oleh karena itu kami memakai disimulasi (penyamaran, penyaruan), yang hampir menjadi kebiasaan kami. Continue reading “Topeng Bangsa Meksiko”

Octavio Paz dan Sajak “Tetangga Jauh”

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=501

Setiap penyair mempunyai pamor tersendiri, memancarkan kharisma masing-masing, menebarkan daya pikat sekuat pencariannya menyetubuhi hidup dalam kehidupan. Mereka berjenis-jenis burung mengisi hutan belantara, memadu kicauan, kadang berbentur saing, demi telinga yang menyusuri tapakan sunyi, menuju dataran tinggi kesaksian. Continue reading “Octavio Paz dan Sajak “Tetangga Jauh””

Octavio paz, amerika latin, dan senjakala modernisme

Nirwan Dewanto *
tempointeraktif.com

BERTAHUN-TAHUN lalu saya mengenal nama Octavio Paz melalui sebuah sajaknya dalam terjemahan Indonesia. Baris-baris sajak itu tidak dapat saya ingat lagi, tetapi yang tertinggal pada saya adalah “inti”-nya: aku yang melihat perlahan-lahan berubah menjadi aku yang dilihat, aku yang menyatakan bermetamorfosis menjadi aku yang dinyatakan. Continue reading “Octavio paz, amerika latin, dan senjakala modernisme”