Nol: Angka—Manusia

Pringadi AS
http://reinvandiritto.blogspot.com/

I.
Saya sungguh tak pernah berbohong. Tak pernah menyebut satu sebagai dua. Dua sebagai tiga. Atau sebagai lainnya. Sebab saya yakin bahwa satu adalah satu, dua adalah dua. Tak boleh diganti-ganti. Saya juga tak pernah menyebutkan lima tambah lima sama dengan lima kali dua meski sama-sama sepuluh hasilnya. Sebab saya tahu keduanya tak sama: beda struktur aljabarnya. Seperti itulah saya, yang tidak pernah berbohong. Continue reading “Nol: Angka—Manusia”

Puisi-Puisi Pringadi AS

http://reinvandiritto.blogspot.com/
le mois

bulan menggelinding. jatuh di sixth avenue, taman peluru
diego. malam pedro. santo-santo yang kembali dari malam paskah
telur-telur berwarna merah muda. bulan di antaranya, sembunyi
dari peluit wasit yang botak kepalanya. o, collina kah ia? tidak. ia
tengah di italia, memahat patung dengan besi-besi terapung di
teluk meksiko. tetapi ia pulalah yang mengusir malaikat yang bertanya
adakah kau lihat bulan menggelinding kemari? Continue reading “Puisi-Puisi Pringadi AS”

Sajak-Sajak Pringadi AS

http://reinvandiritto.blogspot.com/
Tubuh dalam Mikrofon

Ada tubuhmu dalam mikrofon. Tubuh biola. Tubuh gitar cantik dari
Negeri matador yang sapi yang kerbau yang sengau yang pura-pura
Drama dua babak di televisi jam enam sore. Jam yang masih lengket
Di sajadah bau dan tua. Diam-diam ia menjadi keningmu. Diam-diam
Ia naik ke atas mimbar membacakan khotbah singkat lima menit di
Bawah hujan yang genit malu-malu memecah dirinya di kaca-kaca
Jedela. Di tanah. Di batang-batang yang keras menantang langit biru. Continue reading “Sajak-Sajak Pringadi AS”

Melankolia, Seusai Neruda

Pringadi AS
http://reinvandiritto.blogspot.com/

I.
Cicak-cicak di dinding
Diam-diam merayap

Saya masih saja menatap ke dinding, ke jam dinding. Menatap jarumnya yang terus bergerak menghitung detiknya sendiri ? detik yang entah kapan akan berhenti di kematiannya. Tapi, saya sama sekali tidak sedang memikirkan kematian. Saya malah sedang berpikir bagaimana caranya hidup, caranya bertahan hidup. Continue reading “Melankolia, Seusai Neruda”