PENJARA MATAHARI

R. Timur Budi Raja
http://aksaraapi.blogspot.com/

Pada saat lampu dihidupkan, pertanda pertunjukan ini dimulai. Cahaya kuning, pucat memecah ke seluruh ruang. Sebuah trap kecil berada di tengah panggung. Di atasnya, sebatang lilin menyala redup. Kemudian terdengar letup senapan, sekali saja. Lampu pun padam. Continue reading “PENJARA MATAHARI”

TEMU TEMAN DAN SILATURAHMI INDONESIA

R. Timur Budi Raja
http://aksaraapi.blogspot.com/

I.
Ketika Puji Lestaluhu -kawan saya-, seorang aktivis teater kampus yang kebetulan menjadi salah satu dari kepanitiaan Temu Teater Mahasiswa Nusantara 2008 ini meminta saya untuk menjadi kurator sajak-sajak peserta yang rencananya hendak dibukukan, saya terkejut. ?Ya ampun, rasanya saya belum cukup memiliki keberanian!? seru saya, sontak dan ringan. Tapi, Puji, kawan saya itu segera memberi isyarat agar saya diam, sembari menyerahkan setumpuk teks. ?Kami tunggu kabar, dan pastikan tiap komunitas dapat ruang satu,? ucapnya. Wah, saya memilih mengiyakan dan tersenyum akhirnya. Continue reading “TEMU TEMAN DAN SILATURAHMI INDONESIA”

Gambar Cinta dari Atjeh

R. Timur Budi Raja
http://aksaraapi.blogspot.com/

4 Pengubur Mayat
Kami kuburkan ia. Semoga selamat sampai ke alamatMu. Semoga diterima di tanah yang lebih luas, dan tak ada penderitaan di hatimu. Saudara-saudara kami yang lahir, hidup dan mati lantaran penderitaan. Kami kuburkan ia, semoga tersenyum di sana, di tanah lapang yang tak ada penderitaan. Continue reading “Gambar Cinta dari Atjeh”

ANAK-ANAK YANG SETIAP PAGI MEMUNGUTI AIRMATA

:LANSKAP KEKERASAN DALAM NARASI PUITIK
R. Timur Budi Raja
http://aksaraapi.blogspot.com/

I.
Saat sajak-sajak ini disodorkan hingga sampai di tangan saya, tak ada lain yang melintas di benak saya, kecuali kecurigaan. Tepatnya, keinginan untuk mencurigai. Lebih-lebih mengingat ketika kawan saya, Taqin, -sang penelepon gelap yang berposisi di Surabaya itu-, mengabarkan bahwa satu jam kemudian pasca kontak dia akan berkunjung ke tempat saya di Junok. Continue reading “ANAK-ANAK YANG SETIAP PAGI MEMUNGUTI AIRMATA”