BERLIPAT TUJUH PULUH

Rakai Lukman *

Bulan sabit bertengger sehabis adzan. Satu persatu gemintang saut-menyaut dendangkan dzikir. Kerlipnya memberi isyarat. Lengkungan langit teduh. Meski gelap. Kerlipnya masih seperti kemarin. Indah. Senandung suara menjerambab ulu hati. Bintang-bintang menari dengan ritus dan ritual ilahiah. Bintang sendiri tidak ragu berpetualang di negeri dzikir. Tarikan demi tarikan nafasnya dinamis. Dengan kodrat alamiyahnya. Continue reading “BERLIPAT TUJUH PULUH”

Tiga Puisi Rakai Lukman

NEGERI AIR

Sungai-sungai luber, sawah-rumah tergenang. Nyanyi tangis pengungsi. Langit memeras keringat saban sore hingga pagi. Dibibir sungai tanggul tak lekas berdiri.
Negeri air. Banjir ajang wisata bencana. Meraup untung ribuan derita. Sumbangan menggunung di lumbung serupa sampah. Dompet peduli bengkak tak terbendung. Meringkuk sepi di bunker saja. Continue reading “Tiga Puisi Rakai Lukman”